Investasi di NTB Tak Merata

Kepala DPMPTSP NTB, H. L. Gita Ariadi (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) mengakui bahwa realisasi investasi di NTB masih belum merata di 10 kabupaten/kota. Kabupaten/kota di ujung timur NTB, seperti Bima dan Kota Bima, realisasi investasi masih sedikit dibandingkan daerah lainnya di NTB.

Kepala DPMPTSP NTB, Drs. H. L. Gita Ariadi, M. Si mengatakan, untuk menggaet investasi ke suatu daerah maka perlu diciptakan iklim investasi. Menurutnya, banyak faktor yang memengaruhi.

Iklan

Ia mencontohkan seperti Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menarik sebagai tempat investasi karena di sana berdiri perusahaan pertambangan. Berdasarkan UU No. 4 Tahun 2009 tentang Minerba, perusahaan pertambangan diharuskan membangun smelter. ‘’Tambah lagi investasi di sana,’’ katanya dikonfirmasi di Mataram, akhir pekan kemarin.

Begitu juga Lombok Tengah. Gita mengatakan, Lombok Tengah akan menjadi ‘’raksasa’’ baru investasi yang akan tumbuh ke depannya. Karena di Lombok Tengah ada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.

Selain itu, Lombok Barat dan Lombok Utara banyak investasi. Karena kedua daerah tersebut merupakan kawasan atau daerah pengembangan sektor pariwisata.’’Cara strategis untuk ramah, menarik  investasi menciptakan kawasan,’’ kata Gita.

Memang, kata Gita untuk mendapatkan suatu tempat menjadi suatu kawasan prosesnya panjang. Daerah harus menyiapkan lahan yang baik dan strategis  untuk investasi. Begitu juga  aksesibilitas menuju kawasan.

‘’Kemudian di dalam kawasan berlaku ketentuan-ketentuan investasi. Itu menjadi daya tarik investasi. Kalau tak menciptakan kawasan, iya sulit. Cuma tak gampang membuat kawasan. Kalau kawasan ada, akselerasinya ada. Karena  perizinan berada di dalam kawasan,’’ katanya.

Berdasarkan data DPMPTSP NTB, hingga triwulan III 2018, realisasi investasi di daerah ini mencapai Rp13,5 triliun. Data capaian investasi tersebut  terbagi Rp9,9 triliun lebih adalah penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan Rp3,5 miliar lebih adalah penanaman modal asing (PMA).

Realisasi tersebar  Rp1,43 triliun di Kota Mataram, Rp517,2 miliar di Lombok Utara, Rp1,43 triliun di Lombok Barat, Rp1,29 triliun di Lombok Tengah, Rp385,3 miliar di Lombok Timur, Rp6,1 triliun di Sumbawa Barat, Rp2 triliun di Sumbawa, Rp76,7 miliar di Dompu, Rp64,1 miliar di Bima, dan Rp37,3 miliar di Kota Bima.

Dari total nilai investasi yang telah masuk selama tahun 2018 sampai triwulan III, jumlah penambahan tenaga kerja mencapai sebanyak 4.866 tenaga kerja, baik asing, maupun tenaga kerja dalam negeri.

Uang investor tersebut, mengucur untuk beberapa sektor. Pariwisata sebesar Rp2 triliun lebih, perhubungan/transportasi sebesar Rp774 miliar lebih, perdagangan Rp92 miliar lebih, pertanian Rp170,1 miliar lebih, perikanan Rp101,2 miliar lebih, kelistrikan Rp9,6 triliun, industri Rp191,8 miliar lebih dan jasa lainnya Rp537,7 miliar. (nas)