Investasi di NTB Rp 22 Triliun dalam Satu Semester

Mataram (Suara NTB) – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat investasi yang ada di NTB lebih lengkap. Selama satu semester tahun 2017 ini, investasi sudah menembus angka Rp 22 triliun lebih.

Nilai investasi ini didapat dari survei kepada masyarakat langsung, dan data yang diterima dari Dinas Penanaman Modal Provinsi NTB.

Iklan

“Kita mencatat investasi tidak berdasarkan institusi saja, ada investasi swasta dan masyarakat, lengkap,” kata Kepala BPS Provinsi NTB, Endang Triwahyuningsih.

Investasi diakumulasi dari komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) terhadap Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB). Untuk triwulan I 2017 (Januari-Maret) investasi yang berkembang di NTB sebesar Rp 10,7 triliun lebih. Sementara pada triwulan II tahun ini (April-Juni), nilai investasi yang berkembang mencapai Rp 11,3 triliun lebih. Atau jika ditotal selama satu semester, nilai investasi tersebut mencapai Rp 22 triliun lebih.

“Seluruhnya dari Penanaman Modal Dalam Negeri dan Modal Asing dan investasi dari masyarakat langsung, yang tidak tercatat di Dinas Penanaman Modal,” ujarnya.

Kepada Suara NTB di ruang kerjanya, Selasa, 26 September 2017 kemarin, Endang menjelaskan, investasi masyarakat tersebut misalnya membangun toko dan usaha-usaha baru. Bahkan dengan modal Rp 50 miliar tetap tercatat sebagai investasi.

Jika sedemikian besar investasi berputar, lalu kenapa kemiskinan masih tinggi? Endang mengatakan, tingkat kemiskinan di NTB mencapai 16,07 persen. Kemiskinan masih tinggi bisa saja akibat investasi besar, terutama perhotelan dan tambang adalah milik pengusaha luar. Sehingga hasil dari investasi yang di dapat di NTB, kembalinya ke pemilik modal di luar NTB.

“Pemilik modal kan tidak tingal disini, terutama yang besar-besar. Kalau yang kecil-kecil kan berputar di sini,” jelasnya.

Pengangguran juga masih menjadi PR. Saat ini angka pengangguran NTB sebesar 3,8 persen dari total penduduk. Investasi padat modal, biasanya tidak masif membutuhkan tenaga kerja. Tetapi tidak serta merta juga, investasi padat karya (melibatkan pekerja banyak) akan langsung menyentuh kepada kemiskinan.

“Belum tentu juga, karena jangan-jangan pekerja yang digunakan dari luar,” tanyanya.

Apalagi melihat keadaan ketenagakerjaan di NTB, sebagian besar penduduk yang bekerja adalah penduduk dengan tingkat pendidikan SD. Sementara perusahaan membutuhkan tenaga – tenaga dengan kualifikasi pendidikan yang memadai.

“Kalaupun padat karya, karena pendidikan SDM kita masih banyak yang tamatan SD, yang penting kerja, upahnya bisa di bawah standar UMP,” imbuhnya.

Investasi besar, menurut Endang, biasanya tidak berdampak secara langsung. Misalnya KEK Mandalika, adanya rencana pembangunan hotel, ridak serta merta dampaknya dirasakan oleh masyarakat, bisa dalam kurun 3 sampai 5 tahun ke depan.

“Tetapi investasi besar tetap kita harapkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi (catatan pertumbuhan ekonomi),” demikian Endang. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional