Intervensi Harga, Pertamina Siap Gelar Operasi Pasar Elpiji di Dompu

Elpiji 3 Kg. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – PT. Pertamina (Persero) siap melakukan operasi pasar untuk mengintervensi harga elpiji sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET). Seperti diketahui, Pemda Kabupaten Dompu merespon keluhan masyarakat atas tingginya harga tebus elpiji tabung 3 Kg (subsidi) yang dihargakan dua kali lipat, bahkan lebih oleh oknum-oknum tertentu. Harga elpiji disebut-sebut sampai di atas Rp30 ribu/tabung.

Sales Area Manager Retail Pertamina Marketing Operation Region (MOR) V Wilayah NTB, Mahfud Nadyo mengatakan, untuk pendistribusian ke wilayah Kabupaten Dompu pada dasarnya Pertamina tidak ada kendala, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan pemda setempat mengenai hal tersebut. Apabila dirasa ada harga yang tinggi, bisa dilaksanakan operasi pasar agar masyarakat bisa mendapatkan elpiji 3 Kg sesuai dengan harga yang telah ditentukan, demikian Mahfud.

Iklan

Sementara itu, Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) mendorong pemerintah daerah untuk mempertemukan seluruh stakeholder, mencarikan solusi tingginya harga jual elpiji isi ulang subsidi di wilayah Dompu. Ketua Hiswana Migas Provinsi NTB, Komang Gandhi mengatakan, pemerintah telah mengatur Harga Eceran Tertinggi (HET) elpiji subsidi dengan mempertimbangkan sesuai jarak pengantaran.

HET diklasifikasikan menjadi tiga. Jarak 0-60 Km HET 15.000/tabung , 0-120 Km HET 15.750/tabung, jarak 0-diatas 120 Km HET 16.500/tabung. Jika harga isi ulang tabung elpiji 3 Kg melambung sampai di atas 30.000/tabung di Kabupaten Dompu, Gandhi mengatakan perlu ditelusuri. Pengawasan dilakukan oleh Hiswana Migas sudah melekat.

Agen mempunyai kewajiban untuk mengawasi transaksi di pangkalan hingga ke konsumen (masyarakat) dengan acuan HET. Manakala terjadi harga melambung, perlu duduk bersama. Diskusi menyamakan persepsi, di mana kira-kira sumber persoalannya kenapa bisa masyarakat membeli diatas HET, ujarnya. Beberapa pemikiran yang muncul atas fakta lapangan di Kabupaten Dompu ini. Bisa saja menurutnya, karena konversi dari minyak tanah ke elpiji di Pulau Sumbawa masih tergolong baru, bisa saja akibat banyaknya pangkalan minyak tanah sebelum konversi.

Pangkalan minyak tanah ini secara otomatis menjadi pangkalan elpiji. Analisa secara garis beras, mungkin saat menjadi pangkalan minyak tanah, tingkat keuntungan perhari sampai Rp150.000 misalnya, sekarang setelah elpji, diatur penjualannya sesuai HET, tidak lagi dapat Rp150.000 sehari. Mungkin pangkalannya ngotot ndak mau pendapatannya berkurang, disiasati dengan menjual diatas HET, kata Gandhi.

Karena itu, diperlukan pengawasan yang lebih intens. Pengawasan dapat dilakukan bersama. Terutama oleh pemerintah daerah sebagai pihak yang mengeluarkan HET. Hiswana Migas, Pertamina menurut Gandhi siap untuk itu. Duduk bareng untuk mencarikan solusinya. Tingginya harga ini dibantahnya karena adanya kekurangan stok. Apalagi, Pertamina telah membangun infrastruktur pendukung suplai elpiji di Pulau Sumbawa. Di Bima juga tersedia SPBE untuk menjaga stok elpiji tetap tersedia.

Harga di tingkat pangkalan tak bisa di utak-atik, penjualannya sesuai HET. Karena itu, harapannya Hiswana Migas, masyarakat atau konsumen membeli elpiji di pangkalan. Jumlah pangkalan juga tak kurang. Kalau beli di pangkalan dengan harga tinggi, laporkan saja. Yang beli dengan harga tinggi ini mungkin di pengecer, bukan di pangkalan, demikian Gandhi. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional