Inspektorat NTB Berhasil Capai Level III

Inspektur Provinsi NTB, Ibnu Salim.

Mataram (Suara NTB) – Inspektorat NTB berhasil menempati posisi level III (integrated) dalam kapabilitas Aparat  Pengawas Intern Pemerintah (APIP). Dalam capaian ini,  berarti kemampuan APIP di lingkungan Inspektorat Provinsi NTB sanggup melakukan penilaian tentang efisiensi, efektivitas, ekonomis terhadap suatu kegiatan. Serta mampu memberikan konsultasi pada tata kelola, manajemen risiko dan pengendalian internal pemerintah.

Pencapaian ini tergolong prestisius, karena hanya Provinsi NTB dan beberapa daerah lain berhasil mencapainya. Seperti Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kabupaten Sleman dan Kabupaten Sidrap. Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah dan Dr. Sitti Rohmi Djalilalh sejak menjabat, dirasakan perannya sebagai pelecut Inspektorat untuk meningkatkan kapasitas hingga capaian level tersebut.

‘’Intinya, beliau (Gubernur dan Wakil Gubernur), melecut  kami untuk percepatan peningkatan kemampuan APIP,” kata Inspektur Provinsi NTB, Ibnu Salim, SH.M.Si menjawab Suara NTB, Selasa (4/6).

Diakuinya, Hubernur dan Wakil Gubernur memberikan support dalam proses peningakatan kapabilitas level III APIP. Sebab ini telah menjadi salah satu target indikator Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)  untuk  mencapai misi birokrasi yang bersih dan melayani. Selain itu, tak kalah penting, tercapainya pemerintahaan yang akuntabel.

“Bentuk nyata dukungan beliau adalah, mendukung peningkatan profesionalisme personel APIP  dengan pengiriman Bimtek, Workshop dan Diklat lainnya, termasuk sertifikasinya,” jelas Inspektur.

Kerja keras sejak masuk memimpin Inspektorat 2017 hingga 2018, pihaknya memaksimalkan  pada fase level III dengan catatan (DC). Saat itu, Inspektorat Provinsi NTB  sudah  menjadi  tujuan studi komparasi. Bahkan, saat ini Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sudah sering merekomndasikan auditor  Inspektorat untuk menghitung potensi kerugian negara kasus tertentu.

‘’Alhamdulillah juga dalam pemeriksaam LKPD kabupaten/kota oleh BPK, auditor kita dipercaya membantu perhitungan kerugian negara/daerah. Ya, ini kerja tim dan ini sesungguhnya adalah pengakuan profesionalisme APIP dalam kinerjanya,” tandasnya.

Dia menambahkan, posisi pada Level III kapabiilitas APIP atau integrated yang diproleh NTB adalah sejalan dengan  proses yang telah diikhtiarkan selama ini.  Mulai dari penguatan Sumber Daya Manusia (SDM), sertifikasi serta orientasi audit yang dipersyaratkan. Namun capaian ini tidak lantas membuatnya dan jajaran di Inspektorat berpuas diri.

‘’Tentu menjadi acuan untuk mencapai level IV dan V puncak yang sudah tertuang juga dalam pencapaian indikator RPJMD NTB tahun  2018 hingga 2023  mendatang,’’ jelasnya. Selain target itu,  misi ke dua adalah birokrasi yang bersih. Ini akan  menjadi  dasar untuk menyusun dan melaksanakan action plan kapabilitas APIP  ke depan. Lebih penting lagi, kata mantan Penjabat Bupati Lombok Tengah ini, akan mendukung visi NTB Gemilang pasangan Dr. Zul – Dr. Ummi Rohmi.

Target ke depannya, instansinya akan  terus menyusun dan memperbaiki infrastruktur, kemudian melaksanakannya secara berkesinambungan hingga menghasilkan outcome dari suatu area proses kunci yang ditetapkan. Selepas prestasi ini, pihaknya  berkoordinasi dengan BPKP. Kewenangan lembaga auditor itu, untuk melakukan monitoring terhadap perkembangan kapabilitas secara regional dan nasional.

‘’Ini standar profesionalisme APIP atau proses evolusi kemampuan APIP yang ditetap oleh APIP secara  internasional,’’ pungkasnya.

Sementara Kepala BPKP NTB, Agus Puruhitaarga Purnomo Widodo, SE.,MBA.,PhD menambahkan, kesuksesan capaian level III oleh Inspektorat NTB itu tidak mudah. Menurutnya Inspektorat Provinsi NTB sudah mampu melakukan pengawalan pembangunan daerah. Namun demikian, masih ada ruang ruang perbaikan untuk mencapai level IV dan V mendatang. Sejauh ini Inspektorat NTB sudah bisa melakukan audit investigasi, audit performance dan audit kinerja. “Kalau  bisa performanya terus ditingkatkan. Karena nanti ada sampai level V. Tapi untuk mencapai level IV dan V, tidak mudah. Karena monitoringnya  dilakukan secara date to date,” pungkasnya. (ars/*)