Insiden Air Asam Tambang, KSB Nyatakan Terjadi Kelalaian oleh Perusahaan

Taliwang (Suara NTB) – Laporan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mengenai hasil investigasi terhadap insiden luapan air asam tambang PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) menunjukkan jika perusahaan tersebut telah melakukan kelalaian.

Dalam laporannya, tim teknis DLH KSB menyampaikan sejak awal telah melakukan pemantauan terhadap kondisi air asam tambang PT AMNT. Kegiatan tersebut dimulai tanggal 3 hingga 6 Februari di mana curah hujan cukup tinggi sehingga menyebabkan terjadi limpasan air asam tambang  ke air permukaan.

Iklan

“Jadi overflow (melimpah) sebenarnya terjadi sebanyak tiga kali. Yang pertama dan kedua terjadi di rentang waktu antara tanggal 3 sampai 6. Tapi saat itu pH (kadar asam) airnya masih diambang baku mutu,” jelas Kepala Seksi Pengkajian Dampak Lingkungan DLH KSB Trisman, ST.

Berikutnya overflow ketiga terjadi pada tangal 7 Februrai, saat itulah air asam tambang PT AMNT yang melimpah ke air permukaan (sungai) memiliki kadar keasaman di bawah standar baku mutu.

Berdasarkan Keputusan Menteri (Kepmen) Lingkungan Hidup (LH) Nomor 202 Tahun 2004 tentang baku mutu air limbah kegiatan tambang emas/tembaga. Dalam ketentuan itu standar baku mutur air tambang kegiatan pertambangan emas/tembaga diatur ph-nya pada rentang 5 sampai 9 pH.

Trisman mengatakan, saat overflow ketiga itu kadar air asam tambang PT AMNT yang melimpah ke air permukaan dan mengalir ke sungai Tongo Loka sangat jauh dari ambang batas baku mutu yang ditetapkan. Terbilang dalam rentang waktu tanggal 7 hingga 11 Ferbruari, kadar keasaman air asam tambang PT AMNT rata-ratanya 3.37 pH sampai 4.1 pH.

“Mulai menurun pH-nya mulai sekitar jam 4 sore di tanggal 7 sampai 11 Feruari dini hari. Tabel pemantauan kami menunjukkan terendah 3.37 pH dan itu sangat jauh dari baku mutu yang ditetapkan yakni minimal 5 pH,” ungkap Trisman.

Atas kondisi tersebut, Trisman mengatakan, tim menemukan kelalaian oleh perusahaan. Hal ini disebabkan perusahaan tidak mengoptimalkan proses pengapuran (CaCO3) sebagai tindakan untuk menetralisir pH air. Dan dampaknya, tim menemukan biota air di sungai Tongo Loka yang mengalami kematian akibat limpasan air asam tambang PT AMNT yang masuk ke aliran sungai.

“Jadi kita bisa pastikan bahwa ikan-ikan yang mati yang ditemukan warga di aliran sungai Tongo Loka itu sebagai dampak limpasan air tambang PT AMNT yang saat itu pH-nya jauh di bawah standar baku,” urainya.

Trisman mengatakan, atas temuan tersebut tim DLH telah menyampaikan rekomendasi kepada bupati. Dalam rekomendasinya itu DLH merekomendasikan tiga hal agar dapat ditindaklanjuti pemerintah. Di antaranya, meminta perusahaan menyampaikan hasil pemantuan dan tindaklanjut penanggulangan atas insiden tersebut, memastikan kualitas air asam tambang sesuai baku mutu dan terakhir memastikan tidak ada dampak lanjutan atas insiden tersebut di kemudian hari. (bug)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here