Inovasi Pemdes Sekotong Tengah Bangkitkan Ekonomi Warga Melalui Kampung Sehat

Ekowisata mangrove ini menjadi salah satu andalan Desa Sekotong Tengah untuk memulihkan ekonomi warga di tengah Pandemi Covid-19. Lokasi ekowisata ini selain untuk menarik wisatawan, juga dikembangkan budidaya kepiting bakau.

Giri Menang (Suara NTB) – Dalam upaya meningkatkan perekonomian masyarakat di tengah Pendemi Covid-19. Pihak pemerintah Desa (Pemdes) Sekotong Tengah dibantu semua pihak melakukan berbagai inovasi melalui program Kampung Sehat. Di antaranya, Pemdes setempat memaksimalkan potensi yang dimilikinya, salah satunya adalah potensi hutan bakau atau ekowisata mangrove. Selain untuk menarik wisatawan, juga berpotensi dalam mengembangkan budidaya kepiting bakau.

Kepala Desa Sekotong Tengah, L Sarappudin mengatakan, ada beberapa inovasi yang sudah dilakukan desa, baik dalam peningkatan perekonomian warga di tengah pandemi maupun dalam mewujudkan kampung sehat yang dinilai tingkat provinsi. Pihaknya melakukan berbagai terobosan dalam berbagai bidang, baik di bidang kelembagaan, kesehatan, ekonomi, dan keamanan. “Berbagai inovasi ini telah kami lakukan di desa,” jelas dia.

Iklan

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Desa Sekotong Tengah, Muhamad Rasid menyebutkan terdapat tujuh inovasi Desa Sekotong Tengah yakni Ekowisata Mangrove Pantai Tanjung Batu, produk minuman kesehatan atau serbat, Radio Komunitas Ampera FM sebagai radio darurat Covid-19, serta Kelompok Tanaman Obat Keluarga (Toga) yang sudah meraih juara di tingkat nasional,” terang Rasid.

Lebih jauh, Ketua KIM Sekotong ini menyebutkan inovasi di bidang kelembagaan yaitu adanya lembaga-lembaga desa yang khusus dan terpadu dalam penanganan bencana. “Karena Desa Sekotong Tengah merupakan salah satu desa rawan bencana, sejak tahun 2017 telah terbentuk dan dilatih beberapa lembaga desa di bidang kebencanaan. Ada Relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat), Relawan Desa Tangguh Bencana (Destana) dan Kampung Siaga Bencana (KSB) yang memiliki tupoksi berbeda beda tetapi menyatu ketika terjadi suatu bencana di desa,” jelasnya.

Kapolsek Sekotong, Iptu. Ikadek Sumerta, SH., mengatakan Desa Sekotong Tengah menurunkan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) untuk penataan lokasi budidaya kepiting bakau di ekowisata mangrove. “Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Sekotong Tengah telah memasuki hari kedua, melaksanakan penataan lokasi budidaya kepiting bakau oleh masyarakat Aik Tangi,” ungkapnya.

Kapolsek juga mengatakan tujuan dari penataan lokasi budidaya kepiting bakau ini adalah untuk meningkatkan pendapatan masyarakat Desa Sekotong Tengah, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. “Untuk meningkatkan produktivitas budidaya kepiting bakau, di mana ini dinilai sangat berpotensi untuk memajukan perekonomian masyarakat Desa Sekotong Tengah,” ujarnmya.

Melalui budidaya kepiting bakau, dengan memperkenalkan teknik budidaya yang ramah lingkungan, tapi dapat menghasilkan nilai tambah dari segi peningkatan ekonomi keluarga. “Potensi Bakau di Desa Sekotong Tengah dimanfaatkan melalui budidaya kepiting bakau, selain wisata bakaunya yang sudah dikenal masyarakat,” imbuhnya.

Kegiatan oleh LPM Desa Sekotong Tengah ini dilaksanakan dengan menggunakan beberapa metoda pendekatan yaitu memberikan pemahaman kepada masyarakat yang dilaksanakan dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD). “Serta melakukan diskusi dan praktek budidaya kepiting, untuk menggali informasi tentang pemahaman budidaya yang ramah lingkungan, menjaga ekosistem mangrove,” terangnya.

Diharapkan, ini berdampak kepada peningkatan pendapatan rumah tangga melalui penambahan nilai terhadap hasil tangkapan. “Selain itu, ini juga sebagai solusi, mengenai adanya nelayan dari luar desa yang melakukan penangkapan dengan cara-cara yang dapat merusak, yaitu dengan menggunakan racun,” tandasnya. (her)