Ini Sembilan Wilayah di Mataram yang Rawan Tsunami

Seorang warga meluangkan waktu memancing di Pantai Loang Baloq, Kelurahan Tanjung Karang, Jumat, 4 Januari 2019. Kawasan sepanjang sembilan kilogram Pantai Ampenan rawan tsunami. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Masyarakat di sepanjang sembilan kilometer Pantai Ampenan, perlu berhati – hati. Pasalnya, sembilan wilayah di Mataram rawan diterjang tsunami.

Sembilan wilayah itu tersebar di dua kecamatan. Kecamatan Sekarbela terdiri dari Kelurahan Jempong Baru, Tanjung Karang, Tanjung Karang Permai, Kekalik dan Kelurahan Karang Pule. Dan, Kecamatan Ampenan terdiri dari Kelurahan Ampenan Selatan, Banjar, Ampenan Tengah dan Bintaro.

Iklan

Camat Sekarbela, Cahya Samudra mengakui potensi bencana tersebut. Pihaknya menindaklanjuti dengan menyampaikan ke RT dan kepala lingkungan untuk mengantisipasi hal tersebut. “Informasi itu sudah kita terima lewat WA grup,” jawab dia dikonfirmasi, Jumat, 4 Januari 2019.

Secara garis besar, kawasan sepanjang pesisir Pantai Ampenan rawan bencana. Namun, pihaknya tetap menjaga kondusivitas di masyarakat. Jangan sampai hal ini menjadi kekhawatiran berlebih di masyarakat. “Waspada, perlu kehati – hatian namun jangan sampai berlebihan,” katanya.

Untuk mitigasi bencana sudah dilaksanakan bulan Desember 2018 lalu bersama Balitbang dan pakar mitigasi dari Unram. Hal senada juga disampaikan Camat Ampenan, Zarkasyi. Ia menyebutkan, empat kelurahan yang rawan tsunami yakni Ampenan Selatan, Banjar, Ampenan Tengah dan Bintaro.

Kerawanan itu dilakukan dengan melakukan mitigasi bencana ke masyarakat. Disamping memperkuat kesiapsiagaan masyarakat sebagai upaya pendeteksian dini. “Paling penting masyarakat tahu bagaimana cara berlindung,” tandasnya.

Zarkasyi dan Cahya Samudra menyebutkan, lokasi evakuasi disiapkan di lapangan. Di Ampenan disiapkan di lapangan Malomba, Lapangan Gajah Madha Polda NTB, lahan milik PT Angkasa Pura di Lingkungan Tinggar serta masjid – masjid.

Sementara di Sekarbela memanfaatkan Lapangan Karang Pule sebagai titik evakuasi. Wakil Walikota Mataram H. Mohan Roliskana menyampaikan, pemerintah telah memberikan perhatian terhadap kebencanaan. Bagaimana daerah menciptakan program mitigasi bencana.

Mitigasi bencana harus tertuang dalam rencana kerja instansi terkait. Oleh karena itu, pihaknya harus memulai kebijakan politik anggaran untuk peduli terhadap bencana. “Tahun – tahun berikutnya sudah ada upaya kita. Karena, selama ini selalu bergantung dari pemerintah pusat,” jawab Mohan.

Mohan mengakui, sepanjang garis Pantai Ampenan rawan tsunami. Karena, lokasinya yang berdekatan dengan Selat Lombok. Pemkot Mataram akan mulai memikirkan kegiatan mitigasi bencana secara masif.

Dia mengakui, selama ini, tidak ada rute titik evakuasi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) diminta fokus membenahi informasi titik evakuasi tersebut. Dengan luas Kota Mataram yang tidak terlalu luas sambungnya, cukup mudah memberikan edukasi ke masyarakat. (cem)