Ini Komoditas yang Mempengaruhi Inflasi NTB

Kelompok makanan penyumbang inflasi. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Pada Bulan Agustus 2021, Provinsi NTB mengalami deflasi sebesar 0,14% (mtm), menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat inflasi sebesar 0,09% (mtm). Namun, secara tahunan Provinsi NTB mencatatkan inflasi sebesar 1,75% (yoy), masih lebih tinggi dibandingkan capaian inflasi nasional pada Agustus 2021 yang tercatat sebesar 1,59% (yoy).

Inflasi Provinsi NTB secara tahunan terutama didorong oleh peningkatan tekanan dari kelompok bahan makanan bergejolak (Volatile Food/VF) yang tercatat mengalami inflasi sebesar 5,76% (yoy). Secara khusus, kelompok VF masih cukup persistent memberikan sumbangan inflasi di sepanjang tahun 2021 dan perlu menjadi perhatian bersama dalam upaya pengendalian inflasi di Provinsi NTB.

Iklan

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Heru Saptaji menjelaskan, apabila ditinjau lebih lanjut, inflasi dari kelompok VF terutama didorong oleh meningkatnya tekanan pada komoditas minyak goreng, tongkol diawetkan, dan tomat. Harga komoditas minyak goreng masih mengalami peningkatan di mana sesuai dengan Survei Pemantauan Harga (SPH) Bank Indonesia Provinsi NTB, rata-rata harga minyak goreng pada periode Agustus 2021 tercatat sebesar Rp16.458. Peningkatan harga minyak goreng diindikasikan sejalan dengan peningkatan harga CPO sawit sehingga terdapat penyesuaian harga dari pihak distributor.

Selanjutnya peningkatan harga ikan tongkol diawetkan diperkirakan sejalan dengan terbatasnya pasokan karena berkurangnya jumlah nelayan yang melaut. Tren peningkatan harga ikan tongkol telah terjadi sejak Bulan April 2021. Sementara itu harga tomat di Provinsi NTB pada periode Agustus 2021 mencatatkan inflasi yang cukup tinggi. Berdasarkan SPH, harga rata-rata tomat di Provinsi NTB pada Bulan Agustus 2021 tercatat Rp16.938, meningkat dibandingkan rata-rata harga di Bulan Agustus 2020 yang sebesar Rp4.250.

Peningkatan harga tomat juga sejalan dengan perkembangan di tingkat nasional di mana terdapat lonjakan harga karena hasil panen yang kurang optimal di sejumlah sentra. Kelompok inflasi inti (Core Inflation/CI) pada Agustus 2021 tercatat mengalami inflasi 0,37% (yoy). Inflasi pada kelompok CI secara tahunan di antaranya didorong oleh komoditas besi beton. Berdasarkan data SPH, rata-rata harga besi beton pada bulan Agustus 2021 mencapai Rp7.688 per millimeter, meningkat dari rata-rata harga Agustus 2020 yang sebesar Rp5.742 per millimeter.

Kenaikan harga besi beton diindikasikan sejalan dengan tren peningkatan harga bijih besi selama setahun terakhir seiring dengan permintaan di pasar global yang meningkat, sementara di sisi lain terdapat penurunan hasil produksi dari pelaku usaha pertambangan. Selanjutnya kelompok komoditas yang harganya diatur pemerintah (Administered Prices/AP) pada Agustus 2021 juga tercatat mengalami inflasi 2,10% (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat inflasi 2,76% (yoy).

Inflasi pada kelompok AP terutama didorong oleh peningkatan tarif angkutan udara. Berdasarkan SPH, rata-rata tarif pesawat rute Mataram-Jakarta pada Agustus 2021 tercatat sebesar Rp775.050, meningkat dibandingkan rata-rata tarif di periode Agustus 2020 yang sebesar Rp717.300. Kenaikan ini dipengaruhi oleh terbatasnya jumlah maskapai yang beroperasi dan kebijakan kenaikan harga dari maskapai selama masa PPKM.

Pada bulan Agustus 2021, Kota Mataram mengalami deflasi sebesar 0,18% (mtm) dan Kota Bima mengalami inflasi sebesar 0,02% (yoy). Deflasi di Kota Mataram dipicu oleh penurunan tekanan pada kelompok VF terutama akibat turunnya harga cabai rawit, cabai merah, dan daging ayam ras. Sedangkan inflasi di Kota Bima dipicu oleh inflasi kelompok CI dengan komoditas penyumbang inflasi antara lain kerudung/jilbab dan susu cair kemasan.

Pada bulan September 2021 Provinsi NTB diperkirakan masih akan mencatatkan deflasi secara bulanan (mtm), namun tidak sedalam bulan sebelumnya. Deflasi bulan September 2021 diperkirakan berada pada rentang -0,08% s.d. -0,02% (mtm). Proyeksi deflasi utamanya ditopang oleh masih tercukupinya pasokan bahan pangan utama seperti beras dan bawang merah paska periode panen. Namun tekanan harga secara umum mengalami peningkatan seiring dengan potensi naiknya permintaan sejumlah komoditas paska relaksasi PPKM. (bul)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional