Ini Komoditas Penyumbang Inflasi Tertinggi April 2017 di NTB

Mataram (suarantb.com) – Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) , pada April 2017, NTB mengalami inflasi sebesar 0,03 persen. Atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 126,55 pada bulan Maret 2017 menjadi 126,59 pada bulan April 2017. Angka inflasi ini menurut data BPS berada di bawah angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,09 persen.

Iklan
Tomat sayur dan daging ayam ras menjadi komoditas penyumbang inflasi di NTB.

Menurut Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS NTB, Kadek Ade Madri, SE, inflasi sebesar 0,03 persen tersebut disebabkan terjadinya kenaikan harga pada beberapa komoditas. “Komoditas penyumbang inflasi terbesar adalah tomat sayur sebesar 0,1013 persen, tarif listrik sebesar 0,0801 persen dan daging ayam ras sebesar 0,0743 persen,” ujarnya, Selasa, 2 Mei 2017.

Komoditi lain penyumbang inflasi adalah sepeda motor, bawang putih, rokok kretek, emas perhiasan, air kemasan, kopi bubuk dan telur ayam ras. Untuk wilayah NTB, Kota Mataram mengalami deflasi sebesar 0,06 persen sedangkan Kota Bima mengalami inflasi sebesar 0,39 persen.

Laju inflasi NTB tahun kalender April 2017 sebesar 1,07 persen lebih tinggi dibandingkan inflasi tahun kalender April 2016 sebesar 0,63 persen. Sedangkan laju inflasi tahun ke tahun April 2017 sebesar 3,05 persen lebih rendah dibandingkan dengan laju inflasi tahun ke tahun di bulan April 2016 sebesar 3,83 persen.

Inflasi NTB bulan April 2017 sebesar 0,03 persen terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan dengan kenaikan indeks pada kelompok sandang sebesar 0,55 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,34 persen. “Sedangkan penurunan indeks terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 0,77 persen,” imbuh Kadek.

Komoditas terbesar penyumbang deflasi adalah cabai rawit, tongkol/ambu-ambu, beras, kembung/gembung/banyar/gembolo/aso-aso, bandeng/bolu, minyak goreng, besi beton, cikalang/sisik, pepaya dan selae/tude.

Dari 82 kota di Indonesia yang menghitung IHK, tercatat 53 kota mengalami inflasi dan 29 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Pangkal Pinang sebesar 1,02 persen diikuti Kota Tanjung Pandan sebesar 0,93 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Cilacap sebesar 0,01 persen diikuti Kota Tembilahan sebesar 0,02 persen.

“Deflasi terbesar terjadi di Kota Singaraja sebesar 1,08 persen dan deflasi terkecil terjadi di Kota DKI Jakarta dan Manado sebesar 0,02 persen,” pungkasnya. (hvy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here