Ini Kata Kuasa Hukum Bule Bulgaria Soal Dugaan Pembobolan ATM di Gili Air

Mataram (suarantb.com) – Kuasa Hukum Bule asal Bulgaria inisial YS (51) yang diduga melakukan pembobolan pada mesin ATM di Gili Air, Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU), melakukan klarifikasi terkait maraknya pemberitaan terkait kasus pembobolan mesin ATM yang diduga dilakukan oleh kliennya.

Tim Kuasa Hukum Bule yang terdiri dari  Yan Mangandar Putra, SH, Ni Luh Putu Sukreni, SH dan Aziz Fauzi, SH dalam keterangan pers mengklarifikasi soal dugaan pembobolan mesin ATM Bank Mandiri yang berada di Gili Air.

Iklan

Yan Mangandar menjelaskan  dari pengakuan kliennya saat ditanya, kliennya sama sekali tidak ada tujuan untuk melakukan pembobolan mesin ATM tersebut. Menurut kliennya, hal tersebut dilakukan karena rasa penasaran dan ingin tahu fungsi pada alat yang dibeli di situs Alibaba.com saat berada di Filipina.

“Pertama kami tanyakan, apakah dia bekerja sendiri, dengan temannya atau jaringan? Dia tegaskan tidak ada jaringan dan tidak ada teman,” ujarnya dalam keterangan pers di Mataram, Rabu, 10 Agustus 2016.

Menurut Yan, dari pengakuan kliennya yang teguh dengan alasannya,  YS hanya melakukan pemasangan alat skimming semata ingin tahu cara kerja alat tanpa merusak sistem pada komputer ATM. Sedangkan hasil dari pemasangan alat skimming (perekam data) sama sekali tidak ada.

Sementara pemasangan alat tersebut, dari hasil pengakuan YS tidak merusak setiap komponen pada mesin ATM.

Kuasa hukum lainnya, Ni Luh Putu Sukreni mengatakan bahwa pemasangan alat skimming oleh YS dilakukan tanpa melibatkan teman. Karena YS seorang penjelajah yang gemar berwisata ke banyak negara seorang diri.

“Dia beli dua unit (alat skimming). Pertama dipasang pada lokasi Gili Air, tapi hilang. Akhirnya dia pasang lagi di tempat yang sama. Pemasangan yang pertama dilakukan pada hari Senin tanggal 11 Juli 2016. Kemudian pada hari Rabu tanggal 13 Juli 2016 dia cek ternyata telah hilang. Kemudian di hari yang sama dia pasang lagi. Hari Jumat tanggal 15 Juli 2016 saat dia berada di Padang Bai Bali dia ditangkap,” paparnya.

Sebelumnya, Kasubdit II Cyber Crime Ditreskrimsus Polda NTB, AKBP Darsono Setyo Adjie, S.IK mengatakan bahwa tersangka YS dari hasil pengembangan penyidikan terungkap bahwa ada indikasi pelaku melakukan skimming di TKP terpisah selain Gili Air. Terungkap bahwa TKP tersebut ada pada sebuah SPBU di kawasan Meninting, Batu Layar, Lombak Barat.

Hal tersebut diklarifikasi oleh Sukreni. Menurut Sukreni, kliennya  YS sebelumnya berkenalan dengan seorang bernama Lim Hong berkebangsaan Korea yang ingin menyewa tempat di kawasan Meninting. Dikarenakan Lim Hong tidak fasih berbahasa Inggris, akhirnya dibantu oleh YS untuk berkomunikasi dengan masyarakat lokal.

Kemudian Lim Hong menyewa sebuah tempat di Meninting sebesar Rp. 15.500.000. Karena Lim Hong buru-buru pergi akhirnya kuitansi pembayaran dipegang oleh YS. “Dia sama sekali tidak tahu terkait kasus di Meninting. Dia tidak tahu soal penyewaan tempat tersebut,” ujar Sukreni sambil memperlihatkan foto bukti kuitansi pembayaran.

Terkait penemuan dua alat di mesin ATM yang berada di Meninting, yakni alat skimming dan sebuah boks putih, menurut Yan bahwa YS tidak mengetahui tentang boks tersebut. YS hanya mengetahui soal alat skimming.

“Klien kami tidak mengetahui hubungan alat itu (boks putih). Menurut ahli dari Unram juga tidak ada hubungan kedua alat tersebut. Itu punya fungsi masing-masing,” jelasnya.

Yan juga menambahkan bahwa harapan kliennya adalah proses hukum cepat berjalan. Menurutnya, kliennya sangat tersiksa secara moril karena pemberitaan tersebar ke mana-mana sebelum adanya proses atau putusan pengadilan.

“Terkait apa yang diperoleh teman-teman penyidik terserah mereka seperti apa, yang kami sampaikan apa yang menjadi pernyataan klien kami. Klien kami berharap proses hukum cepat berjalan, jangan sampai pemberitaan itu menyebar ke mana-mana, dia merasa dihukum sebelum ada proses pengadilan,” ungkapnya. (szr)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here