Ini Hasil Investigasi BP3TKI Soal Rabitah

Mataram (suarantb.com) – Menjawab sejumlah pertanyaan terkait kasus TKW asal KLU, Sri Rabitah, BP3TKI Mataram berusaha mengumpulkan sejumlah informasi. Mulai dari pra pemberangkatan hingga pemulangan Rabitah.

Disampaikan Kasi Perlindungan dan Pemberdayaan BP3TKI Mataram, Noerman Adhiguna berdasarkan data di SISKOTKLN, Rabitah berangkat sebagai TKW dengan tujuan Qatar melalui PT Falah Rima Hudaity Bersaudara yang berkantor pusat di Jakarta lengkap dengan Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLKLN).

Iklan

Rabitah menyelesaikan pelatihan di BLKLN tanggal 26 Juni 2014 dan terikat perjanjian kerja pada 20 Mei 2014, disertai penerbitan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN) namun dengan tujuan negara berbeda, yaitu Oman. Tertanggal 30 Juni 2014 pukul 14.09, menurut Noerman telah diajukan perubahan negara penempatan dari Oman ke Qatar oleh operator BP3TKI Serang. Melalui sistem yang berlokasi di Tangerang. “Artinya ada unit teknis pelayanan BP3TKI Serang di Tangerang,” katanya.

Tahun 2014 belum ada regulasi yang mengatur tentang adanya perubahan ini. Diakui Noerman, ia mendapatkan penjelasan proses pindah negara melalui surat Deputi Penempatan BNP2TKIĀ  tertanggal 6 Januari 2016 tentang perubahan data CTKI.

“Jadi perubahan dimungkinkan dengan adanya izin dari calon TKI dan permohonan dari PPTKIS. Itu yang kami dapatkan informasi dari pusat. Namun itu tertanggal 6 Januari 2016,” katanya. Temuan surat ini membuat tim kuasa hukum Rabitah yakin bahwa perubahan penempatannya sudah menyalahi aturan. Bahkan bisa termasuk tindak penempatan secara ilegal.

Noerman melanjutkan, tanggal 18 Juli 2014 Rabitah sampai di Qatar. Namun, berbeda dengan pengakuan Rabitah yang hanya bekerja selama sebulan. Temuan BP3TKI menunjukkan salinan tiket pulang tertanggal 5 November 2014. “Jadi Rabitah di sana kurang lebih empat bulan, beda dengan pengakuannya selama ini yang hanya sebulan,” ungkapnya.

Selain itu, berdasarkan surat dari KBRI Doha yang diterima BP3TKI, tidak tercatat laporan pada KBRI tentang kedatangan di Qatar maupun kepulangannya. Ini satu lagi temuan yang membuat tim kuasa hukum Rabitah geram.

Untuk mengulik informasi berupa aktivitas Rabitah selama di Qatar, BP3TKI berpatokan pada korespondensi surat elektronik atau surel (e-mail) antara PPTKIS dengan agensi di Qatar. Dalam surel tertanggal 2 September 2014 agensi melaporkan pada PPTKIS bahwa Rabitah melarikan diri dari rumah majikan. Dan agensi telah menjemputnya dari kantor polisi, untuk kemudian dibawa ke kantor agensi.

“Tanggal 28 September ada korespondensi e-mail lagi menginformasikan Rabitah telah dipekerjakan ke majikan kedua. Namun yang bersangkutan tidak mau bekerja dan meminta untuk kembali ke Indonesia,” jelasnya.

Mengenai operasi yang dilakukan Rabitah di Qatar, agensi menjelaskan Rabitan datang tanggal 18 Juli 2014. Pada tanggal 1 Agustus Rabitah dikabarkan sakit. Kemudian majikan pertama membawanya ke RS untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh.

Dari hasil pemeriksaan ditemukan uretra Rabitah bermasalah. Memerlukan waktu untuk operasi. Jika tidak akan merusak ginjalnya dan akan ada keracunan darah. Ditambahkan pula bahwa Rabitah setuju untuk melakukan operasi atas kemauannya sendiri.

“Setelah operasi, Rabitah diberikan istirahat satu bulan dan kembali kerja. Namun setelah 10 hari kerja, yang bersangkutan melarikan diri,” paparnya.

Pada pihak agensi, ia meminta untuk dicarikan majikan baru. Hanya tahan bekerja lima hari, tanggal 5-10 September 2014, majikan kedua mengembalikannya ke kantor agensi. Dengan alasan yang bersangkutan menolak untuk bekerja, karena majikan memiliki banyak anak.

Berselang dua hari, pihak agensi menemukan kembali majikan baru untuk Rabitah. Tetapi ia hanya tahan bekerja selama 10 hari dan dikembalikan lagi ke pihak agensi. Untuk kemudian oleh agensi ia dikirim pulang ke Indonesia lengkap dengan gajinya.

“Agensi menjelaskan telah memfasilitasi kepulangannya ke Indonesia dan Rabitah telah menerima seluruh gajinya. Penerbangan dilakukan pada 5 November 2014, salinan tiket terlampir. Itu yang kami dapatkan dari agensi,” pungkasnya.

Dari penjelasan BP3TKI ini terdapat perbedaan dengan keterangan yang diberikan Sri Rabitah, terutama terkait lamanya ia bekerja di luar negeri dan operasi. Dimana Rabitah mengaku hanya sebulan di Qatar dan tidak pernah memberikan persetujuan untuk dilakukannya operasi. Pasalnya Rabitah meyakini tubuhnya dalam keadaan sehat. (ros)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here