Ini Dampak Retail Modern Terhadap Toko Kelontong di Mataram

Mataram (suarantb.com) – Keberadaan retail modern  semakin bertambah. Pembangunan ruko yang gencar dilakukan di NTB, kini mulai banyak diisi oleh retail modern. Dengan jarak yang hanya terpaut beberapa ratus meter, retail modern dapat ditemukan dengan mudah.

Sebelumnya, Gubernur NTB TGH. M. Zainul Majdi menyatakan, keberadaan retail modern, turut berkontribusi dalam memperbesar ketimpangan dan menambah garis kemiskinan. Dalam hal ini, banyak dari toko kelontong yang dikelola oleh masyarakat akhirnya terkena dampak dari keberadaan retail modern tersebut.

Iklan

Seperti toko kelontog milik Ibu Ayu. Toko kelontong yang dinamakan ‘Kios Bu Ayu’ tersebut, berada tidak jauh dari salah satu retail modern di Kelurahan Kekalik Kecamatan Sekarbela Kota Mataram. Hanya dibatasi jalan raya, retail modern itu berhadapan langsung dengan tokonya.

Sudah 20 tahun sejak Ibu Ayu mengelola toko kelontong miliknya. Bangunan toko itu nampak tua, memasuki kios tersebut, seakan memberikan nuansa sama ketika memasuki kios-kios di tahun 90-an. Kios Bu Ayu menjual beberapa keperluan, selain makanan  ia  juga menjual rokok, aneka minuman dan beberapa barang lainnya.

Wanita berusia 68 tahun tersebut merasakan dampak kehadiran retail modern tersebut. “Kalau di sini sudah ndak ada orang mau cari susu, tisu, pembalut. Mereka lebih memilih ke toko itu (retail modern),” ujarnya kepada suarantb.com, Rabu, 8 Maret 2017.

Meskipun tidak ada lagi pembeli yang mencari produk itu, ia mengaku tetap menyediakan produk tersebut meski dalam skala kecil. “Saya tetap jual tapi beberapa, ya sebenarnya Cuma  untuk menuhin lemari aja,” imbuhnya.

Menurutnya, harga diskon yang ditawarkan oleh retail modern menjadi daya tarik untuk menarik konsumen. “Kalau minuman-minuman itu kan banyak diskon di sana,. Jadi jarang yang beli ke sini. Tapi ada yang masih laris seperti minuman teh ini,  masih laku,” ujarnya.

Kiosnya sendiri, masih bertahan karena ia berusaha menjual barang-barang yang tidak disediakan retail modern. Tampak  ia menjual arang dan ember serta beberapa peralatan lain. “Di sini malam yang ramai, karena penjual makanan di pinggir jalan itu biasa beli gas 3 kg sama arang ke sini,” jelasnya.

Ia juga menjual rokok secara eceran. Menurutnya, cara tersebut tidak berlaku di toko modern. Sehingga para pembeli rokok secara ecer banyak yang datang ke kios kecilnya. (hvy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here