Industrialisasi, Perlu Reorientasi Produksi UMKM Lokal ke Sektor Primer

Firmansyah (Suara NTB/dok)

Provinsi NTB genap berusia 62 tahun, Kamis, 17 Desember 2020. Dalam usia yang ke-62 tahun, kemiskinan dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar NTB.

Secara nasional, NTB masuk 10 besar provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia. Sedangkan, IPM NTB masih bertahan di posisi 29 dari 34 provinsi di Indonesia, yaitu sebesar 68,25.

Program unggulan industrialisasi yang dicanangkan Pemprov NTB menjadi kunci untuk mengakselerasi penurunan kemiskinan dan peningkatan IPM. Namun, Pemprov disarankan melakukan reorientasi industri atau reorientasi produksi ke sektor primer yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat NTB.

“Kalau kita berhasil dalam program industrialisasi ini, ujungnya pada bergeraknya ekonomi.  Karena ekonomi yang bertumbuh saya yakin akan memperbaiki kesehatan, pendidikan, IPM kita,” kata Pemerhati Ekonomi Universitas Mataram (Unram), Dr. Firmansyah, M. Si., dikonfirmasi Suara NTB, Rabu, 16 Desember 2020.

Lewat program industrialisasi, Pemda ingin memperbaiki ekonomi masyarakat NTB. Maka langkah paling penting menurutnya,  merekonstruksi ulang konsep industrialisasi yang dicanangkan.

“Industrialisasi yang masih di level bawah belum connect, ini perlu diperbaiki. Tenaga itu harus diarahkan untuk melakukan reorientasi industri atau reorientasi produksi,” kata Firmansyah.

Selama ini, UMKM lokal yang ada di NTB bergerak di sektor sekunder, dan tersier. Sekarang, bagaimana caranya agar UMKM lokal memproduksi apa yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat NTB.

“Muaranya, reorientasi produksi itu mengarah ke substitusi impor. Jadi, UMKM harus didorong untuk menggantikan produk pabrikan yang masuk ke NTB,” katanya.

Jika 20 persen saja kebutuhan pokok masyarakat NTB  dipasok oleh UMKM lokal, maka dampaknya akan besar bagi ekonomi NTB. Kemudian tahun berikutnya dinaikkan menjadi 40 persen kebutuhan primer masyarakat NTB dipasok UMKM lokal.

Ia mengatakan pandemi Covid-19  menjadi pembelajaran. Bahwa kebutuhan primer yang selama ini dipasok oleh produk pabrikan, baik perusahaan nasional dan multinasional, mereka tetap eksis di tengah pandemi.

Perusahaan tersebut tetap eksis karena mereka memproduksi produk yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Meskipun pandemi, masyarakat  tetap berbelanja kebutuhan pokok.

“Kita bangga sudah mampu menghasilkan sepeda listrik. Tapi berbicara masalah bisnis, segala sesuatu yang berkaitan dengan mesin kita akan bicara masalah produksi, pasar, pesaing dan purna jual,” imbuhnya.

Selain itu, Science Technology and Industrial Park (STIPark) yang menjadi ikon industrialisasi di NTB. Selain menciptakan wirausaha atau UMKM baru. Perlu memfasilitasi investor atau pengusaha lokal mengembangkan bisnisnya.

‘’Sehingga nanti ada pabrik baru yang menciptakan lapangan kerja baru. Pelaku bisnis lokal kita bantu mereka untuk berkontribusi, melakukan ekspansi bisnis,’’ sarannya. (nas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here