Industri Minyak Kayu Putih, Menunggu 61 Tahun NTB

Gubernur NTB, H. Zulkieflimansyah saat panen daun kayu putih, di Bima. (Suara NTB/Humas NTB)

Oleh: Julmansyah, S. Hut, M.A.P

(Kepala Bidang Pengelolaan Hutan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTB)

 

Gerakan Gogorancah di tahun 1980-an era Gubernur NTB Gatot Suherman dapat dibaca dengan dua cara, Pertama gerakan untuk merespon kondisi masyarakat NTB saat itu dan menjadikan NTB swasembada pangan, Kedua pilihan jenis komoditi tanaman Padi yang adaptable dengan lahan kering serta agroklimat NTB secara umum. Artinya pilihan jenis tanaman yang akan mampu menjawab permasalahan saat itu dan kondisi sosiologis serta agroklimat NTB. Kita dapat belajar dari kebijakan tersebut, hadir pada waktu dan tempat yang tepat.

Iklan

Refleksi kebijakan masa lalu dapat kita jadikan cerminan untuk melihat kondisi NTB saat ini. Kondisi tersebut, dihadapkan dengan semakin meluasnya perambahan hutan untuk tanaman Jagung. Perambahan hutan dengan kelerengan diatas 15 derajat di Pulau Sumbawa, tentu sangat tidak cocok bagi monokultur Jagung. Dampaknya, setelah 3 tahun lahan-lahan tersebut menjadi tidak produktif dan kritis bahkan berpotensi menjadi penggurunan (desertifikasi). Ini diakibatkan karena hilangnya top-soil (lapisan atas tanah) akibat dari air permukaan yang mengalir (run-off) tanpa tertahan akibat hilangnya vegetasi dengan perakaran dalam (pohon). Praktek ini dapat mengakibatkan kemiskinan sumberdaya lahan. Ketika sumberdaya kita miskin, akan memicu kemiskinan baru.

Membaca Lanskap NTB Saat Ini

Untuk mempertimbangkan hal itu, terdapat Lima faktor penting dalam membaca landskap NTB saat ini, jika dikaitkan dengan pengembangan komoditas yang mampu menjawab banyak hal bukan malah sektor lain menjadi korban. Pertama, Kondisi agroklimat NTB yang ditandai dengan curah hujan rendah khususnya di Pulau Sumbawa serta bulan hujan rata-rata dibawah empat bulan. Ini artinya kita mesti mencari jenis komoditi/tanaman yang tahan dengan kondisi agroklimat semacam ini. Kedua, Secara sosiologis, masyarakat NTB khususnya Pulau Sumbawa memiliki tradisi ternak lepas di padang pengembalaan. Di masyarakat Sumbawa dikenal dengan konsep Lar dan di masyarakat Bima-Dompu dikenal dengan So. Kondisi sosiologis ini yang menjadi salah satu faktor sebagian besar gagalnya kegiatan penghijauan hutan, akibat ternak memakan tanaman hutan. Karena memang di padang pengembalaan tidak ada manajemen sumber pakan yang disediakan oleh otoritas yang menanganinya, semua alam yang mengaturnya. Disamping praktek pembakaran lahan hutan dan penyemprotan pestisda untuk penanaman monokultur Jagung. Ketiga, luas lahan kritis semakin bertambah. Sebaran lahan kritis terbasar berada di Pulau Sumbawa, baik dalam maupun luar kawasan hutan. Apalagi data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTB, terdapat 96 ribu hektar kawasan hutan yang dirambah menjadi lokasi penanaman monokultur Jagung. Keempat, skala ekonomisnya harus menguntungkan petani. Berapa skala konomis agar komoditas ini menguntungkan petani kecil atau kelompok petani. Kelima, Kepastian pasar (secure market) atas komoditas yang akan dikembangkan. Permintaan (demand) pasar produk dari komoditi tersebut secara nasional tinggi tetapi kemampuan supply (pasokan) dari dalam negeri sangat terbatas. Inilah pintu masuknya industrialisasi.

  STIP NTB akan Inkubasi 50 Calon Pengusaha

Dengan menggunakan kerangka pikir Lima faktor diatas, maka pertanyaannya apa  jenis industrialisasi yang mampu menjawab Lima faktor tersebut sekaligus?. Pada era NTB Gemilang, telah menempatkan kebijakan industrialisasi menjadi lokomotif perubahan. Bukankah jika ingin ada perubahan, kita mesti merubah segala kelemahan atau hambatan menjadi peluang. Curah hujan rendah, lahan kritis dan ternak lepas harus dibaca kembali sebagai peluang bukan lagi hambatan. Inilah yang akhirnya ditemukan pada tema industrialisasi minyak Atsiri (essensial oil) salah satunya Minyak Kayu Putih sebagai salah satu kebijakan Pemerintah Provinsi NTB melalui sektor Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Industri Minyak Kayu Putih, sebagai Salah Satu Jawaban

Kayu Putih (Melaleuca cajuput) di NTB sesungguhnya telah dimulai skala kecil di beberapa Balai Kesatuan Pengelolan Hutan (KPH) sejak 2014 lalu. Akan tetapi ada KPH yang berkembang dan ada yang stagnan. Ini dibutuhkan roadmap agar menjadi lebih terarah. Apalagi sebelumnya belum menjadi mainstream kebijakan pemerintah saat itu. Karena dirasakan ada peluang pasar minyak kayu putih nasional yang menarik.

Fakta pasar saat ini, harga minyak kayu putih cenderung stabil bahkan meningkat hingga di angka 260 ribu rupiah/kg. Sementara kebutuhan minyak kayu putih di nasional seperti yang diperkirakan oleh para peneliti Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Kemen LHK sekitar 3.500 – 4.000 ton/tahun. Sementara kemampuan supply dari produsen dalam negeri hanya pada angka 600-900 ton per tahun. Ini artinya minyak kayu putih hanya mampu di-supply sekitar 25% dan 75% merupakan impor. Inilah peluang yang hendak diambil NTB saat ini. Inilah faktor kepastian Pasar (secure market) dari komoditas ini. Kehadiran PT. Sanggaragro Karya Persada di Pulau Sumbawa dan PT. Natura Aromatik Nusantara di Lombok Utara akan menjadi offtaker/buyer dari minyak Atsiri di NTB. Tugas pemerintah selanjutnya yakni memastikan adanya kemitraan antara petani dan pasar.

  Daging Beku Dijual Bebas, Produksi Daging Lokal Dikhawatirkan Terganggu

Tanaman Kayu Putih (Melaleuca cajuput), merupakan tanaman yang mampu hidup pada lahan kritis dan iklim yang sangat panas. Hal ini akan meningkatkan kadar Cineol dari minyak Kayu Putih. Produk minyak Kayu Putih dari PT. Sanggaragro di Bima memiliki kadar cineol 74%, jauh diatas SNI 60%. Tanaman ini hanya sekali ditanam dan dipanen dengan cara memangkas setiap 7 bulan sekali. Tanaman ini mampu beradaptasi dengan kondisi iklim dan kondisi sosiologis masyarakat Pulau Sumbawa. Dimana ternak tidak mengkonsumsi tanaman Kayu Putih karena beraroma menyengat. Sehingga tanaman Kayu Putih (Melaleuca cajuput) akan mampu menjawab lahan kritis yang luas di NTB sebagai tanaman penghijauan.

Bagaimana skala ekonomis tanaman ini, apakah akan mampu menggantikan Jagung?. Meski kontribusi tanaman Jagung terhadap kesejahteraan petani juga dampak lingkungan masih dipertanyakan. Tanaman Kayu Putih (Melaleuca cajuput), mampu mendapatkan hasil kurang lebih 50 juta/Ha/tahun, dengan syarat menggunakan benih unggul dari Balai Besar Litbang KemenLHK dan jumlah per hektar minimal lima ribu pohon per hektar. Akan dipanen hingga usia 25 tahun kedepan. Akan tetapi harus dimulai dari tapak, dengan kerjasama Pemprov dan Pemkab, agar petani memiliki keyakinan untuk memilih komiditas ini. Bukankah untuk perjalanan seribu langkah harus dimulai dengan satu langkah pertama.

Penutup

Kehadiran Gubernur NTB di pabrik Minyak Kayu Putih skala besar di Sanggar Kab. Bima memiliki nilai strategisnya. Ada komitmen yang kuat dalam merespon kondisi hutan dan lahan saat ini serta laju kemiskinan di NTB, melalui tanaman Kayu Putih. Apalagi saat diskusi di ruang VIP bandara Bima, Gubernur NTB dan Bupati Bima telah bersepakat menjadikan Tanaman Kayu Putih sebagai tanaman penghijauan dalam jangka saat ini. Komitmen pimpinan seperti inilah yang akan menentukan masa depan NTB kita bersama. Salah satu statemen menarik dari Bupati Bima saat diskusi VIP Bandara Bima, beliau mengatakan bukan saatnya lagi kita saling menyalakan kondisi hutan, tetapi kita harus bersama mencari solusinya. Nampaknya kita harus menunggu 61 tahun NTB, untuk kita menemukan solusi atas lahan kritis NTB melalui industri minyak kayu putih (Melaleuca cajuput).  Keterlibatan pemerintah desa kedepan dapat menjadikan unit pengolahan minyak kayu putih dikelola oleh BUMDes. Karena melalui pengolahan minyak Kayu Putih ini dapat menjadi sumber PADes-PAD, pendapatan petani dan mampu merestorasi lingkungan. Wallahualam ***

  Positif Konsumsi Hasis, Pilot Jakarta-Lombok Diamankan BNNP NTB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here