Indonesia Terancam Krisis Pangan

Praya (Suara NTB) – Krisis pangan saat ini telah menjadi ancaman serius bagi bangsa Indonesia. Di tengah semakin menurut minat masyarakatnya untuk bertani. Untuk itu, diperlukan langkah nyata dari pemerintah untuk menjawab ancaman ini supaya tidak sampai terjadi di masa yang akan datang.

Demikian disampaikan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Fadli Zon, saat berbicara pada Leadership Forum di Auditorium Kampus IPDN NTB Praya Lombok Tengah (Loteng), Sabtu, 24 September 2016.

Iklan

Pada acara yang merupakan rangkaian perayaan Hari Tani Nasional dan Festival Pemuda Tani Nasional, Wakil Ketua DPR RI ini, mengaku sebagai negara agraris bukan jaminan bagi Indonesia terbebas dari ancaman krisis pangan. Mengingat luas lahan pertanian saat ini perlahan terus berkurang. Lebih parahnya lagi, minat masyarakatnya untuk bertani juga jauh menurun.

Ia menjelaskan, saat ini usia rata-rata petani Indonesia sudah di atas 52 tahun. Itu artinya, tidak banyak masyarakat berusia muda di negara ini yang memiliki minat untuk bertani. Kecuali penduduk yang sudah berusia lanjut.

Di satu sisi, pemerintah terus berupaya semaksimal mungkin untuk bisa mewujudkan kedaulatan pangan dan swasembada pangan. Dan, terbukti apa yang diharapkan pemerintah menjadi satu hal yang begitu sulit untuk diwujudkan. “Dengan kondisi seperti ini, memang dibutuhkan kerja keras dan kerja cerdas, untuk bisa mewujukan kedaulatan pangan,” terang politisi Partai Gerindra ini.

Menurunnya minat masyarakat untuk bertani, ujarnya, bukan tanpa sebab. Bertani di mata masyarakat sekarang sangat identik dengan kemiskinan. Kondisi tersebut kian diperparah dengan persentase kepemilikan lahan yang begitu kecil, sehingga sulit bagi petani di negara ini bisa keluar dari kemiskinan. Padahal jika berbicara peluang, bertani justru bisa sangat menjanjikan kesejahteraan. Jika bisa dikelola dengan maksimal. Di sinilah peran pemerintah dalam mendorong minat masyarakat untuk mau bertani.

Caranya, pemerintah harus mampu menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi para petani saat ini, seperti persoalan ketersedian benih, pupuk dan tidak kalah penting, pola pemasaran hasil produksi pertanian yang jelas. Jika kemudian persoalan-persoalan mendasar ini tidak mampu dijawab oleh pemerintah, maka jangan heran kalau kemudian minat masyarakat untuk bertani bakal terus menurun. ‘’Kalau sudah demikian, maka bersiaplah Indonesia sebagai negara importir pangan,’’ sindirnya.(kir)