Indikator Lingkungan Rendah, Pariwisata Berkelanjutan di Lobar Terancam

Giri Menang (Suara NTB) – Predikat pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) yang telah dicanangkan di Lombok Barat oleh Kementerian Pariwisata perlu dikawal serius oleh Pemda Lobar. Pariwisata berkelanjutan bakal terancam karena beberapa indikator pendukung dari dimensi lingkungan berada pada level rendah yakni terkait ketersediaan dan konservasi air serta pengelolaan limbah padat. Hal ini menyebabkan Lobar jatuh dari sisi indikator lingkungan.

Pemda Lobar bisa tetap membangun pariwisata berkelanjutan tersebut, asalkan ada upaya mengatasi beberapa permasalah tersebut.

Iklan

Jika melihat Indeks Kepuasan Pengunjung (IKP) khususnya wisatawan yang berkunjung ke Lombok Barat lebih rendah dibandingkan kepuasan wisatawan yang berkunjung KLU. Kepuasan wisatawan ke Lobar mencapai 74,78 persen, sedangkan di KLU 75,26 persen. Rendahnya IKP wisatawan ini disebabkan beberapa hal, diantaranya ketersediaan toilet yang nyaman dan bersih di obyek wisata kurang memadai. Disamping itu kurang memadainya ketersediaan tempat sampah dan kenyamanan serta kebersihan di obyek wisata.

Demikian hasil penelitian yang dilakukan  oleh Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) Jakarta yang berjudul “Study Pariwisata Berkelanjutan di Kabupaten Lombok Barat dan KLU”. Hasil penelitian ini dipaparkan oleh para mahasiswa STIS di Kantor Bappeda kemarin. Pemaparan dihadiri langsung Ketua STIS, Dr. Hamonangan Ritonga, Asisten II Setda Lobar, H. Poniman, Kepala BPS Lobar, H. Agus Alwi, Kabid Statistik dan Pelaporan Bappeda, Fathurrahman, Kabag Humas dan Prokoler Setda Lobar, H. Syaeful Ahkam dengan segenap SKPD terkait.

Mahasiswi STIS selaku pengaji hasil riset, Amanda Putri Pertiwi, Ni Putu Ridha O dan Yustina Eva memaparkan hasil penelitiannya yang dilaksanakan di 9 obyek wisata Lobar diantaranya Senggigi, Taman Suranadi, Pantai Meninting, Pura Batu Bolong, Gunung Pengsong, Cukli Sesela, Pure Lingsar, Taman  Narmada dan Mangsit.

Hasil penelitian ini menunjukkan dari Indeks kepuasan pengunjung (IKP) di Lobar memperoleh nilai 74,78 persen, artinya secara umum wisatawan merasa puas terhadap pariwisata di Lobar.

“Namun beberapa hal yang harus diberbaiki terutama terkait dengan sarana pendukung, seperti toilet dan tempat sampah, serta kebersihan dan kenyamanan obyek wisata yang masih kurang,”jelas Amanda Putri.

Menurut mahasiswa STIS ini ada dua lokasi wisata yang tak memiliki toilet dan tempat sampah yakni Meninting dan Mangsit. Masalah sampah juga menjadi salah satu persoalan yang perlu menjadi perhatian. Lebih jauh dipaparkan, wisatawan yang berkunjung ke Lobar kebanyakan wisatawan lokal dengan usia muda dan tidak menggunakan biro perjalanan. Wisatawan nusantara (dalam negeri) lebih memilih hotel berbintang sedangkan wisatawan mancanegara cenderung menggunakan pondok wisata. Dari segi pemenuhan kebutuhan wisatawan terdiri dari unit usaha penyedia jasa makanan dan minuman, penyedia jasa akomodasi dan penyedia jasa perjalanan. Unit usaha pariwisata Lobar lebih didominasi usaha penyedia makanan dan minuman dengan upah, biaya operasional dan omzet yang masih rendah. “Hal ini mengindikasikan daya saing usaha pariwisata daerah ini rendah,“jelas Ni Putu Ridha, penyaji hasil penelitian.

Hal yang perlu menjadi perhatian Pemda Lobar kedepan, terkait aspek lingkungan menyangkut pariwisata berkelanjutan. Sebab dari ageregasi 8 indikator penilaian yang terbagi dalam tiga dimensi yakni dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan. Pada dimensi lingkungan Lobar pada level unsustanable tourims atau berpotensi pariwsata tak berkelanjutan. Hal ini disebabkan ketersediaan konservasi air dan pengelolaan limbah padat yang levelnya rendah.

Terkait ketersediaan konservasi air lebih disebabkan unit usaha di Lobar  kebanyakan penyedia makanan dan minuman yang skala mikro tak memperhitungkan areal resapan air seperti taman, sedangkan terkait limbah padat yang kurang diperhatikan. Dilihat kepedulian usaha pariwisata terhadap lingkungan sebagian besar jasa unit usaha pariwisata tidak melakukan pemilahan sampah dan kegiatan 3R (reduce, reuse dan recycle).

Menurutnya, jika dua hal ini tak diperhatikan Lobar kedepan maka berpotensi pariwisata di Lobar tak keberlanjutan. Sebab dalam pariwisata berkelanjutan indikator lingkungan menjadi poin penting untuk diperhatikan. Ketua STIS, Dr. Hamonangan Ritonga berharap agar hasil penelitian dari mahasiswanya ini bisa ditindaklanjuti oleh pemda Lobar. Ia siap membantu jika pemda setempat memerlukan bantuan dari pihak STIS.

Menanggapi hasil penelitian ini, Asisten II Setda Lobar, Poniman menyatakan hal ini menjadi peringatan dini bagi pemda untuk menjadi bahan kebijakan kedepan. Menurutnya, lokasi wisata Lobar ini ibarat gadis cantik yang sedang tumbuh sehingga harus dipersolek bagaimana bisa menjadi pesona bagi masyarakat luas.

“Kami sependapat dengan ini, makanya banyak PR pemda kedepan. Dari sisi infrastruktur dan masyarakat-nya perlu dibenahi kedepan,”jelasnya. Mulai tahun depan hal ini akan dijadikan bah untuk melaksakan program.

Hal senada disampaikan Kabag Humas dan Prokoler Setda Lobar, H Syaeful Ahkam bahwa hal ini menjadi warning dini bagi pemda untuk pembenahan pariwisata kedepan. “Kita berterima kasih atas hasil riset karena dar hasil riset ini kami memiliki gambaran kedepan soal bagaimana pengelolaannya,”jelas Ahkam. (her)