Indeks Penurunan Kasus Covid-19 di Mataram Rendah

H. Usman Hadi. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Kesehatan mengevaluasi pencegahan dan penanganan kasus Covid-19 di Kota Mataram. Indeks penurunan kasus tidak sesuai target atau capaian masih rendah. Memutus mata rantai penyebaran virus corona dibutuhkan kerja keras bersama stakeholder lainnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H. Usman Hadi memaparkan, data jumlah kasus Covid-19 sampai tanggal 24 Februari 2021 mencapai 2.262 orang terkonfirmasi positif. Di antaranya, 239 orang masih dalam perawatan atau isolasi, 1.908 orang sembuh, 115 orang meninggal dunia, 172 orang suspek, 439 kontak erat dan masih karantina.

Iklan

Peningkatan kasus berimplikasi terhadap zonasi. Sesuai rilis disampaikan tim gugus penanganan covid-19 NTB, Kota Mataram termasuk zona merah. “Kalau dari data provinsi Mataram masuk zona merah,” kata Usman dalam pemaparannya, Senin, 1 Maret 2021.

Usman menggambarkan, angka serangan virus dari 1 : 100.000 posisi Kota Mataram pada insiden rate komulatif 456,3. Dibandingkan dengan Pemprov NTB jauh lebih kecil yakni 179,6 dan angka serangan nasional 478,6. Sementara, mortalitas rate Kota Mataram berada pada posisi 23,3. Pemprov NTB 7.5 dan nasional 12,9.

Untuk indeks penurunan kasus Covid-19 setiap minggu berdasarkan sumber data allrecord. Ibukota provinsi NTB masih rendah atau 15,7 persen dari target 50 persen.  Secara keseluruhan persentase kesembuhan di Mataram baru mencapai 84,3 persen. Hal ini dibarengi dengan rendahnya penurunan kasus positif meninggal ditargetkan 50 persen,tetapi berada pada posisi 33,3 persen. “Memang kasus meninggal dunia di Mataram lebih tinggi dibandingkan NTB dan secara nasional,” jelasnya.

Pihaknya telah berkoordinasi dengan rumah sakit milik pemerintah maupun swasta agar menekan angka kematian di Mataram. Di satu sisi disampaikan Usman, data peningkatan kasus Covid-19 perharinya cenderung fluktuatif. Enam fasilitas kesehatan yang menggelar PCR yakni RSUD Mataram, RSUD NTB, RSAD, Rumah Sakit Unram dan RS Bhayangkara.

Proses pencegahan dan penanganan penyebaran virus corona sambungnya, tidak bisa berjalan mulus. Petugas kesehatan memiliki hambatan di antaranya penolakan pasien, pasien dan kontak erat tidak kooperatif, data kurang lengkap, masih adanya stigma di masyarakat serta ketersediaan reagen tidak sama dengan peningkatan kasus, sehingga pemeriksaan kontak erat saat tracing terhambat. (cem)

Advertisement filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional