Incometer PDAM Disegel, Warga di Dompu Ancam Lumpuhkan Instalasi Pengolah Air

Seorang warga menunjukkan bekas instalasi air bersih yang disegel incometer-nya oleh petugas PDAM, Kamis,  14 Maret 2019. (Suara NTB/jun)

Dompu (Suara NTB) – Puluhan incometer air warga di Dusun Selaparang Desa Matua disegel sepihak PDAM, Kamis,  14 Maret 2019. Sikap petugas PDAM itu lantas menuai kecaman. Puluhan warga bahkan mengancam akan melumpuhkan operasional Instalasi Pengolah Air (IPA) yang dibangun di wilayah tersebut.

Salah seorang pelanggan PDAM, Muhammad mengutuk keras aksi penyegelan incometer ini. Selain karena tidak adanya pemberitahuan awal, perilaku petugas dianggapnya terlalu arogan. Bahkan terkesan memalak warga yang sudah bertahun-tahun dilanda kesulitan air bersih.

Iklan

“Kami tiba-tiba diminta denda pembayaran air selama dua tahun lebih, kalau tidak mampu membayar meteran langsung disegel tanpa kompromi sedikitpun,” ungkapnya menjawab Suara NTB.

Denda pembayaran yang diminta untuk tiap pelanggan bervariasi, mulai kisaran Rp2-Rp3 juta. Denda tersebut merupakan akumulasi dari pemakaian air selama dua tahun lebih dengan beban biaya per bulannya dihitung Rp32 ribu.

Tagihan itu, tegas Muhammad, tidak setimpal dengan apa yang telah diberikan PDAM pada puluhan pelanggannya. Terutama warga di RT02 Dusun Selaparang. Pasalnya, selama dua tahun lebih (2016-2018) mereka hampir tidak pernah mendapat pasokan air. Kalaupun ada debitnya sangat kecil dan hanya disalurkan mendekati waktu penagihan tiap bulannya.

“Itupun jarang, bagaimana kami mau bayar air selama dua tahun lebih sementara yang kita terima hanya angin. Petugas PDAM pun tidak pernah datang menghitung beban pemakaian karena memang mereka tahu sendiri disini tidak pernah ada air,” jelasnya.

Ia menambahkan, beberapa pelanggan yang sudah disegel incometer-nya terpaksa berusaha dengan ngutang dan sebagainya untuk bisa membayar separuh dari tagihan denda tersebut. Ternyata, pelanggan semacam ini juga dibebani biaya pemasangan kembali. Nominalnya pun bervariasi dari Rp50-100 ribu. Kuat dugaan biaya pemasangan kembali ini bagian dari Pungutan Liar (Pungli).

Atas persoalan tersebut, selaku pelanggan dan mewakili aspirasi masyarakat lainnya ia mengancam akan melumpuhkan operasional IPA Selaparang. Bahkan, tidak menutup kemungkinan akan ada aksi membuang bangkai binatang ke dalam bak penampung tersebut jika incometer tak dipasang kembali.

Hal senada juga disampaikan Ketua RT 02, Nurdin. Disamping sikap arogansi petugas PDAM tersebut telah meresahkan masyarakat, juga sebagai perangkat desa ia merasa tak dihargai lantaran tidak adanya pemberitahuan awal akan ada panagihan sekaligus penyegelan incometer.

Menurutnya, sebagai bagian dari pemerintah daerah PDAM mestinya menyampaikan imbauan awal pada masyarakat. Dengan demikian, tidak muncul persoalan seperti ini. Terkait rencana aksi melumpuhkan IPA Selaparang yang dianggap tidak memberi banyak manfaat itu ia menyerahkan sepenuhnya pada hasil keputusan bersama dalam waktu dekat ini.

“Mestinya ada pemberitahuan awal apakah melalui corong masjid dan sebagainya. Masalahnya sekarang tidak ada yang tahu, masyarakat tiba-tiba ditagih ketika tidak mampu membayar langsung disegel meterannya,” pungkas dia.

Direktur PDAM, Agus Supandi, SE., yang berusaha dikonfirmasi Suara NTB via telepon maupun pesan singkat siang kemarin sampai saat ini belum memberi jawab apa-apa. (jun)