In Memoriam Hj. Mislah, Sosok Ibu dan Nenek yang Ajarkan Kesederhanaan

Mataram (Suara NTB) – Ibunda mantan Walikota Mataram, H. Moh. Ruslan (alm) yang juga nenek dari Wakil Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana, Hj. Mislah tutup usia, sekitar pukul 04.30 Wita pada Jumat, 9 Februari 2018.

Hj. Mislah meninggal pada usia 105 tahun di kediamannya di Lingkungan Karang Bedil Kelurahan Mataram Timur. Di mata keluarga, ia dikenal sebagai sosok perempuan tegar, penyayang, taat beribadah serta mengajarkan kesederhanaan kepada anak dan cucunya.

Iklan

Almarhumah memiliki tiga orang anak. Yakni, H. Moh. Ruslan (alm), Hj. Bedah dan Hj. Misbah. Cucu sembilan orang serta cicit 21 orang. Pada masa mudanya, ia dikenal masyarakat sebagai belian (dukun tradisional). Kepiawaiannya mengobati pasien membuat namanya dikenal oleh banyak orang. Pasiennya banyak berasal dari luar Kota Mataram.

“Beliau dulu adalah terapis tradisional (belian, red). Pasiennya banyak dari luar. Bahkan, ada dari Lotim datang nyari beliau,” kenang cucunya, H. Novian Rosmana.

Novian menceritakan, selain faktor usia, neneknya meninggal dunia karena mengidap komplikasi sakit jantung dan sesak nafas.

Selama 10 hari beliau sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Mataram. Diagnosis dokter memutuskan mengambil tindakan operasi. Tetapi, keluarga menolak dengan pertimbangan usia.

Hj. Mislah (alm) berfoto bersama dengan cucu dan cicitnya pada suatu kesempatan.

Dengan tidak adanya perkembangan, pihak keluarga memutuskan membawa pulang dan dirawat di rumah. “Tim dokter menganjurkan untuk operasi. Karena pertimbangan usia keluarga minta dirawat di rumah saja,” tuturnya.

Dalam kondisi sakit, kenang Novian, neneknya memiliki kekuatan fisik bagus. Padahal tekanan darahnya 78/30. Selama 10 tahun menjalani aktivitas di atas kasur. Bukan berarti, Hj. Mislah melupakan kewajibannya sebagai seorang muslimah.

Usianya lebih satu abad dimanfaatkan dengan berdzikir dan beribadah. Bibirnya selalu mengucap dengan lantunan Asma Allah.

Sebagai seorang ibu dan nenek banyak kenangan ditinggalkan. Pesan – pesan moral selalu ditanamkan di saat seluruh keluarga berkumpul. “Selama 10 tahun terakhir tidak bisa jalan habis waktu di kasur. Kasih sayangnya luar biasa sebagai seorang nenek. Walaupun sakit menanyakan kondisi cucu. Terhadap cucu selalu diingat,” ucapnya.

Sebagai seorang cucu, Novian mengingat betul karakter ibu dari almarhum ayahnya tersebut. Karena, pada masa kecil, Novian menghabiskan waktu bermain di rumah neneknya.

Yang paling utama dan pertama diperintahkan usai pulang sekolah adalah mengaji. “Saya waktu kecil kan di sini. Begitu pulang sekolah langsung disuruh ngaji sama beliau,” kenangnya.

Neneknya, demikian Novian, banyak menceritakan kisah hidupnya. Perjalanan hidup pahit dan manis jadi kenangan yang beliau tak bisa lupakan. Tetapi menurutnya, pengalaman diceritakan itu jadi pembelajaran diberikan ke anak dan cucunya agar bisa bermanfaat bagi masarakat.

“Kisah hidupnya selalu diceritakan kepada keluarga,” tuturnya.

Kondisi neneknya tak begitu melihat jelas, pendengar tak seterang dulu, tetapi daya ingatnya kuat. Satu persatu cucunya diingat. Tak ada wasiat yang ditinggalkan. Hanya pesan moral diajarkan semasa hidup almarhumah akan menjadi pegangan bagi keluarga.

Novian menambahkan, rencananya almarhumah akan dimakamkan di pekuburan keluarga di Pondok Pesantren Tarbiyatul Ummah yang tak jauh dari kediamannya.

Usai disalatkan, ribuan jemaah mengantarkan almarhumah ke pemakaman keluarga di Ponpes Tarbiyatul Ummah. Para pelayat mengiringi pemakaman dengan melantunkan ayat – ayat suci Alquran serta dzikir. (cem)