Ikuti Jambore Sanitasi, Milenial NTB Peduli Sanitasi Aman

Penandatanganan draft komitmen sanitasi aman oleh peserta Jambore Sanitasi Youth Sanitation Influencer di Desa Sesaot, Senin, 21 Desember 2020.

Mataram (Suara NTB) – UNICEF bekerja sama dengan Pokja AMPL Provinsi NTB dan Mitra Samya melaksanakan kegiatan Jambore Sanitasi bertajuk Youth Sanitation Influencer. Kegiatan yang dilaksanakan pada 20-21 Desember 2020 di Desa Sesaot tersebut bertujuan untuk mendukung peningkatan pengelolaan air limbah domestik yang aman dengan konsep sanitasi aman di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dan Kabupaten Lombok Timur (Lotim).

Direktur Mitra Samya, Husnuzzoni, menerangkan dalam program tersebut peningkatan layanan sanitasi aman salah satunya didorong melalui pelatihan pembuatan video promosi sanitasi yang digelar di 10 sekolah di KSB dan Lotim. Video yang dihasilkan oleh masing-masing sekolah saat ini telah digunakan salah satunya oleh Sanitarian Puskesmas dalam kegiatan promosi di masyarakat.

“Untuk meningkatkan pengetahuan serta kepedulian pelajar tersebut, maka kita mengadakan kegiatan Jambore Sanitasi bagi pelajar SMA sederajat ini,” ujar Joni, sapaan akrabnya, Senin, 21 Desember 2020.

Menurutnya pelibatan generasi milenial perlu menjadi bagian khusus dan mendapat ruang inovasi dari Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota. “Terutama untuk mendukung percepatan ODF (Open Defecation Free) menuju sanitasi aman di NTB,” sambungnya.

Praktisi Film dan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, Rikrik Saptaria, menerangkan proses lokakarya pembuatan video promosi sanitasi sendiri telah berjalan selama dua bulan dengan peserta dari 10 sekolah di KSB dan Lotim. Dalam prosesnya, masing-masing sekolah membentuk satu tim berisi 6 orang siswa yang telah menghasilkan 10 judul film pendek berbeda sebagai media promosi.

“Ini pengalaman yang sangat berharga, karena hampir seluruh kegiatan lokakarya kita laksanakan secara daring. Di sini para peserta belajar disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan dan lain-lain alam produksi filmnya,” ujar Rikrik.

Agustina Yusiana Poy, Siswa SMKN 1 Maluk yang turut hadir sebagai peserta menyebut pengalaman mengikuti Jambore Sanitasi dan lokakarya pembuatan film sangat bermanfaat bagi dirinya. “Banyak ilmu yang saya dapat di sini, terutama untuk pembuatan film. Dari proses ini juga kami baru tahu sanitasi itu apa, termasuk dengan tantangan-tantangannya di lapangan,” ujarnya.

Menurut Agustina, dalam proses pembuatan film tentang sanitasi berjudul Geng Cinta Sehat yang digarapnya memang tidak gampang. Terlebih untuk mengubah pola pikir masyarakat bahwa sanitasi adalah kebutuhan bersama. “Sempat ketika kami mau mengambil bahan video, orang-orang meremehkan. Mereka menganggap anak kecil seperti kami tidak tahu lebih banyak tentang sanitasi ketimbang mereka yang lebih dewasa,” jelasnya.

Senada dengan itu, Darmawan Aryandani yang juga menjadi peserta menyebut seluruh rangkaian program Jambore Sanitasi berdampak besar bagi dirinya. Dalam prosesnya, Siswa SMKN 1 Selong tersebut terlibat banyak bersama pemerintah desa dan pihak terkait dalam mewujudkan jambanisasi dan pengelolaan limbah.

“Kami buat film berjudul Jamban Kami, Masa Depan Kami yang berlokasi di Desa Presak (Kecamatan Sakra). Ternyata dari pihak Desa dan lain-lain juga sangat antusias, dan itu memudahkan kami untuk tahu bagaimana konsep sanitasi aman itu. Karena kami juga awam sekali,” ujar Darmawan.

Perwakilan Kepala Kantor Perwakilan UNICEF NTB-NTT, Rostia Laode Pado mewakili, menerangkan UNICEF sebagai salah satu lembaga PBB yang peduli terhadap anak menjadikan masalah sanitasi sebagai perhatian utama. “Sanitasi merupakan hak dasar anak yang harus dipenuhi,” tegasnya. Untuk itu, UNICEF bekerja sama dengan Pemprov NTB berupaya mempercepat pencapaian 100 persen ODF, 90 persen sanitasi layak dan 15 persen sanitasi aman sesuai dengan tujuan RPJMN 2024.

Duta Sanitasi dan Air Bersih Pokja AMPL Nasional, Ikke Nurjanah, yang turut hadir mengisi webinar dalam jambore tersebut berharap munculnya pengetahuan dan kepedulian terkait program pengelolaan air limbah domestik yang aman, terutama bagi pelajar yang hadir sebagai peserta. “Kaum milenilal perlu lebih kreatif dan inovatif dalam melakukan promosi sanitasi,” ujarnya.

Kepala Bappeda NTB, Dr. Ir. H. Amry Rakhman, M.Si, yang membuka kegiatan tersebut secara virtual menerangkan pelaksanaan kegiatan harus menggunakan protokol kesehatan untuk menghindari penyebaran virus corona (Covid-19). Di sisi lain, peserta diharapkan bisa meneruskan pengetahuan baru terkait pembuatan video promosi guna mendukung kampanye sanitasi dengan tajuk Youth Sanitation Influencer NTB.

“Kaum milenial diharapkan bisa berperan dalam melakukan kampanye atau promosi sanitasi di lingkungan pendidikan, keluarga dan masyarakat sehingga bisa tercapai BABS 0 persen, akses sanitasi layak 84 persen, dan akses sanitasi aman 11 persen pada tahun 2024,” ujar Amry. (bay)