Igelan Jaran Endut, Seni Tradisi Tari Teater Sasak yang Tergolong Langka

Giri Menang (suarantb.com) – Dewan Kesenian Kabupaten Lombok Barat menampilkan empat kelompok kesenian tradisi yang tergolong langka di Gedung Kesenian Narmada. Salah satu yang  ditampilkan adalah kelompok kesenian Igelan Jaran Dusun Endut, Desa Batu Mekar Kecamatan Lingsar. Igelan Jaran sendiri merupakan jenis kesenian yang menggabungkan tiga unsur seni, yaitu tari, teater dan musik.

Berkisah tentang sekelompok masyarakat yang melakukan perjalanan panjang untuk mencari tempat tinggal baru yang dalam perjalanannya menemukan banyak sekali tantangan dan rintangan. Namun kebulatan tekad dan semangat Temayong Takak Opek Ite Along Side Bek (peribahasa Sasak Endut yang menggambarkan perjuangan sampai titik darah penghabisan) sekelompok masyarakat tersebut terus melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai di suatu tempat.

Iklan

Di mana kuda yang ditunggangi pemimpin mereka awalnya liar berhasil dijinakkan kemudian berhenti di sebuah tempat. Konon tempat jaran (kuda) tersebut endot (berhenti) menjadi muasal dari penamaan Dusun Endut sebagai nama sebuah kampung.

Budayawan NTB, Sahnan, SH pada pengantar sebelum Igelan Jaran dimulai, menceritakan sejarah perjalanan masyarakat Dusun Endut dari Desa Pejarakan (nama kelurahan di Kota Mataram) menuju Bale Kuwu di Kecamatan Gunung Sari. Tidak berhenti sampai di Bale Kuwu, mereka lantas melanjutkan perjalanan menuju tempat antah berantah yang saat ini dikenal dengan nama Dusun Endut.

“Kisah perjalanan masyarakat Dusun Endut dari Pejarakan menuju Bale Kuwu di Gunung Sari, dalam perjalanannya mereka menemukan banyak rintangan, jalanan berduri. Namun dengan semangat Temayong Takak Opek, Ite Along Side Bek, mereka terus melanjutkan perjalanan,” ujar Sahnan, Rabu, 7 Desember 2016.

Kisah pada Igelan Jaran, lanjut Sahnan menjadi napak tilas bagi perjalanan sebuah kelompok masyarakat Dusun Endut awal. Karena alasan politis memilih untuk melakukan hijrah dari tempat asalnya menuju tempat baru dengan dituntun seekor kuda (jaran). Berbekal semangat siap mati asalkan kalian binasa (Ite Along Side Bek) mereka terus berjalan menuju tanah harapan.

  Musik Genggong Terancam Punah

Kepada suarantb.com, salah satu pemain senior Igelan Jaran Endut, Di Kodong mengatakan sebagai sebuah jenis kesenian, Igelan Jaran Endut menjadi satu-satu nya kelompok yang ada di NTB. Ini dikarenakan bahwa kisah yang diangkat pada cerita Igelan Jaran Endut merupakan cerita perjalanan masyarakat Dusun Endut awal dalam mencari tanah baru sebagai tempat tinggal.

“Nggaq wah ne nadek lain. Mbe taokn arak lainan (Hanya ini sudah. Tidak ada di tempat lain),” ujar Di dalam bahasa Sasak.

Berbeda dengan Rudat, Igelan Jaran memiliki ciri khas tersendiri. Kalau Rudat mendasarkan cerita pada masyarakat Timur Tengah, sumber cerita Igelan Jaran Endut berlatar masyarakat asli Suku Sasak. Belum lagi ditambah dengan penggunaan topeng oleh beberapa pemainnya sebagai penegasan watak tokoh, hal yang tidak ditemukan pada pertunjukan drama rudat.

Selain Igelan Jaran Endut, Dewan Kesenian Lombok Barat selaku penyelenggara kegiatan juga menampilkan beberapa kelompok kesenian lain yang tergolong kesenian langka. Di antaranya Kayak Sandongan, Rebane Langko, dan Genggong Gelangsar.

Terkait hal itu, Dewan Kesenian Lobar melalui  Kepala Bidang (Kabid) Atraksi Seni dan Budaya Sarnah, S. Sos menyampaikan kegiatan itu dimaksudkan untuk menandai bangkitnya seni dan budaya di Lombok Barat. Khususnya kesenian-kesenian yang hampir punah karena tergerus oleh kemajuan zaman dan tekhnologi.

“Ini menjadi simbol bangkitnya seni dan budaya Lombok Barat,” ujar Sarnah.

Sementara untuk pemilihan kelompok-kelompok kesenian yang tampil, Sarnah menjelaskan bahwa hal tersebut didasarkan pada pemetaan jumlah kesenian dan kelompok kesenian yang ada di Lombok Barat. Dari pemetaan tersebut, pihaknya kemudian menyaring kelompok-kelompok maupun jenis-jenis kesenian yang termasuk dalam kategori langka.

“Dari pendataan yang kami lakukan ternyata sebagian kecil saja kesenian yang bisa kita tampilkan. Grup kesenian ini hampir punah karena termakan zaman,” terangnya.

  Ada Kesenian Presean pada Festival Bau Nyale 2017

Ia berharap dengan diadakannya kegiatan tersebut bisa memberi dorongan bagi generasi muda di Lombok Barat untuk lebih peduli dengan seni dan budaya. Termasuk di dalamnya kesenian-kesenian yang telah tergolong langka. “Karena itu kami coba menggali dan mengangkat kembali kesenian-kesenian ini sehingga kesenian ini bisa dikenal oleh kita dan anak-anak kita,” katanya.

Selain itu, lanjut Sarnah, empat kelompok kesenian yang masuk kategori langka tersebut pada penampilannya diusahakan untuk kembali kepada pakem awal. Termasuk menghadirkan para pegiat seni tradisi yang tergolong senior. Hal ini untuk menjaga jangan sampai kesenian tradisi yang ditampilkan tersebut keluar dari pakem yang seharusnya.

“Bahwa ini senimannya tempo dulu dan belum diubah sama sekali. Beberapa kesenian yang melegenda atas dasar sejarah kelahiran mereka. Termasuk sejarah kelahiran Dusun Endut. Jaran Endut, Genggong Gelangsar, Rebane Langko dan Kayak Sandongan,” jelasnya.
Tari Gandrung Desa Montor Narmada menjadi penampil terakhir pada kegiatan tersebut. Gandrung sendiri tidak termasuk kesenian kategori Langka. Tari Gandrung termasuk ke dalam kesenian pergaulan masyarakat Sasak Lombok pada umumnya. Gandrung dilibatkan pada kegiatan tersebut karena Dewan Kesenian Lombok Barat melihat posisinya yang mulai tergeser oleh kesenian modern  Ale-Ale dan Cilokaq. “Dan Gandrung yang juga hampir tergeser oleh Ale-Ale,” tandas Sarnah. (ast)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here