Ibu Nuril Dituntut Enam Bulan Penjara

Mataram (suarantb.com) – Setelah status tahanannya menjadi tahanan kota, terdakwa kasus dugaan pelanggaran UU ITE, Baiq Nuril Maknun kembali menjalani persidangan, Rabu, 14 Juni 2017 di Pengadilan Negeri (PN) Mataram. Agenda sidang kali ini adalah pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Seperti biasa, sidang kasus ITE itu berlangsung tertutup. Sidang tersebut dimulai sekitar pukul 13.36 Wita. Ibu Nuril didampingi empat penasihat hukum dan suaminya. Relawan #SaveIbuNuril juga tetap hadir memberikan dukungan.

Iklan

Dalam sidang itu, JPU mengatakan Ibu Nuril terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dan dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan melanggar kesusilaan” kata JPU dalam dakwaannya.

JPU menyatakan perbuatan terdakwa melanggar pasal 27 ayat (1) Jo pasal 45 ayat (1) Undang-undang No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Atas perbuatannya itu, JPU menuntut Ibu Nuril dengan pidana penjara selama 6 bulan dengan dikurangi selama terdakwa ditahan. JPU juga menuntut Ibu Nuril untuk membayar denda sebesar Rp 500 juta subsider tiga bulan kurungan.

Terkait barang bukti selama persidangan, JPU menuntut agar dikembalikan kepada pemiliknya. Barang bukti berupa sebuah CD berisi rekaman pembicaraan antara HM dan Ibu Nuril dikembalikan kepada pemiliknya HM. Begitu juga dengan barang bukti yang lain berupa laptop Toshiba, kabel data, HP merk Samsung Champ, sebuah kartu memori eksternal Micro dan kartu memori merk V-gen masing-masing dikembalikan kepada pemiliknya.

Namun, khusus untuk barang bukti sebuah telepon genggam merk Nokia warna hitam silver, JPU menuntut untuk dirampas dan dimusnahkan. Di akhir tuntutan, JPU menuntut agar Ibu Nuril membayar biaya perkara sebesar Rp 2.500.

Ditemui usai persidangan, JPU Julianto, SH mengatakan tuntutan yang dibacakan sesuai dengan fakta persidangan. Menurutnya beberapa saksi sudah membuktikan peran Ibu Nuril.

“Kalau Ibu Nuril tidak mengakui tidak masalah tapi saksi yang kita periksa juga kan mengatakan seperti itu,” ujarnya.

Menurut Julianto, saksi ahli yang dihadirkan pihaknya menyatakan bahwa Ibu Nuril aktif dalam mentransmisikan data. Bahkan, saksi ahli yang diajukan penasihat hukum terdakwa juga menyatakan Ibu Nuril aktif dalam transmisi data.

“Ada juga ahli dari mereka menerangkan aktif. Sempat dikroscek waktu itu,” ungkapnya.
Terkait adanya perbedaan keterangan antara JPU dan penasihat hukum Ibu Nuril, Julianto mengatakan bahwa sudut pandang JPU berbeda dengan penasihat hukum. (bur)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional