Ibu Nuril Dialihkan Jadi Tahanan Kota

Mataram (suarantb.com) – Persidangan kasus UU ITE dengan terdakwa Baiq Nuril Maknun baru saja usai. Permohonan penangguhan penahanan Ibu Nuril akhirnya dijawab hakim.

Majelis hakim memutuskan untuk tidak menangguhkan penahanan Ibu Nuril. Melainkan, mengalihkan status penahanan Ibu Nuril dari tahanan rumah tahanan (rutan) negara menjadi tahanan kota.

Iklan

Penasihat Hukum Nuril, Aziz Fauzi, SH mengapresiasi keputusan majelis hakim yang mengalihkan status tahanan Ibu Nuril dari tahanan rutan menjadi tahanan kota. Aziz mengatakan pihaknya sebenarnya sudah mengajukan permohonan penangguhan penahanan dan pengalihan status tahanan. Namun hakim hanya memutuskan untuk mengalihkan status penahanan Ibu Nuril.

“Pada prinsipnya kita sangat mengapresiasi majelis hakim yang telah mengabulkan permohonan kami,” kata Aziz usai persidangan, Rabu, 31 Mei 2017.

Menurut Aziz, dengan dialihkannya status tahanan, Ibu Nuril diwajibkan untuk wajib lapor selama dua kali dalam seminggu. Yakni antara hari Senin sampai Kamis.

Aziz menambahkan dalam pengalihan status penahanan Ibu Nuril, hakim telah mempertimbangkan aspek perlindungan hukum terhadap korban dan aspek hak asasi manusia. Hal itu relevan dengan keterangan ahli dari Komisioner Komnas Perempuan. Ahli mengatakan Ibu Nuril adalah korban kekerasan seksual di tempat kerja secara verbal yang terjadi akibat adanya ketimpangan relasi sosial antara atasan dan bawahan.

Sementara itu, Humas Pengadilan Negeri Mataram, Didiek Jatmiko, SH., MH mengatakan keputusan hakim tidak dapat diintervensi oleh siapa pun.

“Kalau majelis dengan permohonan pemohon ternyata mengabulkan ya itulah keputusan terakhir terbaik oleh majelis atas saudara terdakwa Nuril,” kata Didiek.

Terkait pertimbangan hakim dalam pengalihan status penahanan, Didiek mengatakan ada banyak yang dipertimbangkan hakim dalam memutuskan. Termasuk karena Ibu Nuril sudah berkeluarga, banyaknya penjamin dan pertimbangan kemanusiaan. Namun terkait materi persidangan bukan merupakan bahan pertimbangan hakim.
“Tapi yang pasti dari sisi hukum,” ujarnya.

Meskipan status tahanan sudah dialihkan, Ibu Nuril masih tetap berstatus sebagai tahanan. Hanya saja statusnya dialihkan menjadi tahanan kota. Ibu Nuril tidak boleh meninggalkan kota ini kecuali atas izin pengadilan.

Terkait wajib lapor, Didiek mengatakan Ibu Nuril tidak diwajibkan melakukan wajib lapor. Namun, Ibu Nuril harus menghadiri setiap sidang atas kasus yang menjeratnya.

“Kalau dia tidak hadir dalam persidangan tanpa alasan yang sah, dia bisa dikembalikan lagi pada posisi semula tahanan rumah tahanan negara,” pungkasnya. (bur)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional