I Wayan Rusha Satya, Penemu Pertama Khasiat Tanaman Tegining Ganang di NTB

0
Penemu pertama khasiat tanaman Tegining Ganang I Wayan Rusha Satya bersama Kepala Desa Peresak Kecamatan Narmada menunjukkan hak paten yang diperoleh dari pemerintah. (Ekbis NTB/her)

I Wayan Rusha Satya (75) asal Dusun Desa Peresak Kecamatan Narmada menjadi penemu pertama khasiat tanaman Tegining Ganang. Khasiat tanaman ini mengobati luka bakar, gatal-gatal, pada kulit, keseleo, gigitan ular berbisa, ikan dan tanaman beracun. Bisa juga menyembuhkan sakit perut, mag kronis, dan keracunan. Berkat temuannya itu, pria kelahiran 7 November tahun 1947 itu pun bisa keliling Indonesia untuk mengikuti pameran dan Teknologi Tepat Guna (TTG). Hasil penemuan pria lima anak itu pun telah mendapatkan pengakuan dari pemerintah berupa hak paten dan izin edar.

DITEMUI akhir pekan kemarin di rumahnya, Wayan menuturkan awal mulanya dirinya menemukan khasiat kayu legendaris suku Sasak itu. Ia mengetahui kayu itu dari peninggalan sang kakek, bernama Nengah Dres. Kakeknya ini adalah seorang dukun yang mengobati warga yang sakit di desa itu.

IKLAN

Menjelang meninggal, kakeknya berpesan ke dirinya kalau kakeknya meninggal ia harus membantu warga sekitar dalam pengobatan tradisional. “Kakek saya meninggalkan di gegandek (tas kecil) salah satu bahan namanya kayu tegining Ganang,” ujarnya menyampaikan pesan sang kakek. Ketika itu, sekitar tahun 1980.

Tahun 2004, ia pun mencoba membuat obat dari kayu yang ditinggalkan itu. Kemudian iapun berpikir, kalau kayu itu digunakan, maka akan habis. Stok tidak ada untuk membuat obat, sehingga ia pun menelusuri di mana keberadaan pohon kayu Tegining Ganang itu. Akhirnya ia pun menelusuri di desa di wilayah Lobar, mulai dari Desa Peresak, Suranadi, Sesaot, Sedau kemudian di Sekotong, hingga Tanjung Lombok Utara dan Gunung Rinjani.

Ia pun mengumpulkan tanaman itu, berkat informasi dari warga masyarakat petani yang memberitahu soal kayu tersebut. Lalu tanaman itu dikoleksi dan dibudidayakan di rumah. “Dari daun tanaman itu, saya coba membuat obat, ternyata kalau kita disengat kalajengking dan tawon, ambil daunnya oleskan, Ndak apa-apa itu,” ujarnya.

Akhirnya ternyata ia membuktikan sendiri khasiat dari tanaman itu.

Berkat temuannya itu, ia pun mengikuti pekan daerah waktu itu menampilkan obat itu. Ketika itu ia ikut menjadi anggota KTNA Lobar. Ia ikut tampil pada pekan daerah tingkat provinsi, di daerah Tondano Sulawesi Tengah. Kemudian waktu belum ada izin, namun ia hanya memamerkan bukti dari tanaman itu. Tahun 2005 dilakukan seleksi TTG di Provinsi NTB yang dilaksanakan oleh Bappeda. Ia pun mendaftar, dengan judul minyak tradisional Tegining Ganang Rinjani.

Waktu itu ia diuji oleh tiga orang. Setelah naskah dibuat dan diwawancarai. Sampai proses kerja dan formulasi obat minyak ramuan yang dibuat sampai dengan pembuktian. Ia membawa tawon, dan tanaman yang mengandung racun untuk diujicoba. Akhirnya salah satunya dari penguji itu mencoba tanaman beracun itu. Daun beracun itu diusap pada tangan penguji, ternyata penguji itu kesakitan, sehingga ia pun mengoleskan minyak itu. “Selang beberapa menit kemudian rasa sakit hilang,” tutur dia.

Akhirnya ia mendapatkan penghargaan dari Gubernur NTB Drs. H. L. Srinata. Dilanjutkan tahun 2006 ia tampil sebagai penyaji produk hasil TTG di Pontianak. Selanjutnya ia mengikuti berbagai pameran pekan daerah tingkat provinsi di beberapa daerah dan terakhir di Mataram tahun 2010.

Hasil temuannya tidak saja dibuktikan oleh penguji, namun langsung melalui pengobatan warga. Dari situlah ia dikenal oleh masyarakat luas. Sekitar tahun 2016 ia pun mendirikan industri obat tradisional yang memiliki izin industri, izin dagang hingga hak paten sudah keluar dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Ia sudah memilki hak paten formasi khasiat tanaman Tegining Ganang. “Saya sudah mendapatkan hak paten,”ujarnya.

Proses untuk mendapatkan hak paten pun panjang. Ia mengajukan sejak tahun 2007. Ke depan ia akan mengajukan hak paten tentang farmasi. Saat ini, pihaknya sudah meracik obat ini dalam beberapa bentuk produk, seperti minyak, kapsul dan jamu. Untuk membuat produk ini masih di tempat yang terbatas.

Selain itu sudah banyak mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang penelitian tentang tanaman ini. Dalam waktu dekat ini, mahasiswa Unram akan meneliti tamanan ini di rumahnya. Diakui, dari LIPI pun sudah melakukan penelitian kebenaran dari tanaman Tegining Ganang ini memang satu-satunya ada di Lombok. Ada satu tanaman yang sama, yakni berada di India. Sejauh ini perhatian pemerintah terhadapnya masih minim. Kemungkinan karena ia belum melapor ke pemerintah. “Karena itu saya akan membuat surat ke pemerintah soal potensi daerah satu-satunya di NTB ini,” imbuhnya.

Ia mengaku terkendala memperpanjang izin edar, karena semenjak mati izin edar sampai saat ini belum bisa diperpanjang, karena terkendala aptoteker sebagai salah satu persyaratan mendapatkan izin edar dari pemerintah.

Sementara itu, Kepala Desa Peresak Bahri mengatakan pihak desa terus mendorong agar penemu I Wayan terus mendalami penemuannya ini. Pihak desa pun, jelas dia, sudah mendukung ketika I Wayan Rusha mengikuti pameran. Pihaknya pun akan menyiapkan tempat jualan lapak setelah desa membangun kios BUMDes.  Selain itu, pihak desa membantu promosi produk yang dihasilkan oleh I Wayan Rusha. “Kami dari desa support beliau sejak saya sebagai kades, kami bantu ketika ikut pameran dan seminar,” ujarnya.

Ia pun berharap perhatian pemerintah terhadap penemu pertama khasiat tanaman Tegining Ganang ini, karena bagaimana pun ini potensi daerah yang sangat besar. (her)