Hutan Rinjani Gagal Dimaksimalkan Atasi Kekeringan

Mataram (Suara NTB) – Debit air yang sebenarnya sangat tinggi tersedia di kawasan Gunun Rinjani. Selain sumbernya dari Danau Segara Anak, juga dari kawasan hutan yang masih terjaga. Sayangnya potensi ini gagal dimaksimalkan untuk mengatasi kekerinan di Pulau Lombok.

‘’Menurut saya, potensi air di Gunung Rinjani 90 persen bisa melayani kebutuhan air masyarakat. Kalau itu bisa dimaksimalkan, saya kira tidak ada kekeringan. Tapi kan ini tidak dimanfaatkan,’’ kata Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Raden Agus Budi Santosa, Rabu, 6 September 2017.

Iklan

Saat ini, luas hutan dalam kawasan TNGR mencapai 41.330 hektare. Kawasan hutan yang tentu saja menyimpan potensi air relatif besar yang selama ini melalui Daerah Aliran Sunai (DAS) dan anak sungai. Belum lagi potensi air dari Danau Segara Anak yang luasnya 11.800 hektare dengan kedalaman 200 – 300 meter.

Air dari Segara Anak selama ini dilepas ke sungai, termasuk Kokok Putek dan melalui sungai sungai kecil lainnya.

Agus Budi Santosa mengkritik peran Tim Koordinasi Pemerdayaan Sumber Daya Air (TKPSDA) yang seharusnya mampu memaksimalkan potensi air di Rinjani sebagai sektor hulu. Tidak selamanya kekeringan yang harus disalahkan pemanfaatakn di sektor hilir, khususnya masyarakat.

Jika saja TKPSDA mau memanfaatkan kawasan taman nasional itu, pihaknya secara terbuka dan berkoordinasi. Membahas pola pemafaatan yang maksimal sehingga aliran air bisa sampai ke kawasan hilir.

‘’Selama ini ketersediaan air besar di Rinjani sebagai kawasan hulu. Tapi begitu mengalir, habis di tengah jalan. Kenapa? Karena tidak ada yang meneruskan aliran air ini ke hilir,” ungkapnya.

Dia menyebut ratusan DAS Rinjani tidak mampu meneruskan aliran air ke sungai sampai kawasan hilir, karena kondisi sungai memprihatinkan. Demikian juga kawasan DAS yang mulai berkurang sebagai daerah tangkapan.

“Karena apa? Hutannya tidak ada, pohonnya tidak ada. Nah ini yang kita coba pikirkan, bagaimana aliran air ke daerah hilir ini bisa meneruskan yang dari hulu. Saya lihat di media media (berita kekeringan), selama ini tidak membahas soal ini. Saya lihat TKPSDA juga tidak pernah menyinggun soal ini,” kritiknya.

Sebagai “penguasa” di kawasan hulu, pihaknya tentu tidak bisa menginisiasi, karena tidak masuk dalam TKPSDA. Lagipula menurutnya tidak ada kewenangan, kecuali ada ajakan untuk koordinasi pemanfaatan air kawasan TNGR.

Tapi dia melihat yang terjadi, ketersediaan air sebenarnya cukup. Hanya tinggal dimaksimalkan. Tapi yang membuat kekeringan, kapasitas ketersediaan air yang konstan, tidak bisa diimbangi dengan kapasitas kebutuhan.

Menangani kekeringan di sektor hilir baginya akan tetap menjadi proyek tahunan yang tidak berujung. Sistem yang paling ideal adalah memperbanyak pohon yang bisa menyimpan air seperti beringin dan bambu di jalur -jalur sungai.

Dia semakin prihatin melihat kondisi kekeringan saat ini yang hanya ditangani secara instan. Jika ada yang mau membuka diri untuk memikirkan pemanfaatan Rinjani, maka pihaknya sangat siap diajak koordinasi. (ars)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here