Hutan Purba “The Hobbit” Ada di Lombok

Selong (suarantb.com) – Bagi para pembaca novel fantasi J.R.R. Tolkien khususnya The Lord of The Rings dan The Hobbit, pasti sudah akrab dengan dunia pertengahan (middle earth) yang menjadi latar tempat novel tersebut. Dalam dunia pertengahan, ada sebuah hutan bernama Mirkwood atau Mirkwood Forest. Hutan tersebut ditumbuhi pohon-pohon tinggi menjulang, pohon-pohon berusia tua. Mirkwood juga ditampilkan secara visual dalam film The Hobbit; Desolation of Smaug.

Jika ingin merasakan sensasi berada di dunia rekaan Tolkien, datang saja ke hutan purba yang ada di Desa Gunung Malang, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Hutan ini ditumbuhi pohon purba, yaitu pohon Lian yang konon katanya hanya tumbuh di beberapa tempat di dunia, salah satunya di Lombok.

Iklan
Hutan Purba pakai 3
Gazebo

Ada ratusan pohon berdiri tegak dan menjulang di hutan ini. Hutan yang kini menjadi objek wisata ini telah ada sejak lama, namun baru beberapa waktu terakhir ini populer berkat pengguna media sosial. Kini, objek wisata ini telah dikelola oleh warga sekitarnya dan dilengkapi beberapa fasilitas seperti tempat parkir dan gazebo.

“Dulu di sini banyak semak-semak, orang tidak peduli karena belum dianggap sebagai objek wisata,” cerita salah satu penjaga objek wisata hutan purba, Abdul Azim kepada Suara NTB.

Tidak sulit menuju ke hutan purba ini. Lokasinya persis berada di pinggir jalan utama, sekitar dua kilometer setelah Labuhan Lombok. Hutan purba ini mulai ramai dikunjungi sejak setahun terakhir ini. Sejak pengunjung mulai ramai, maka dibangunlah beberapa gazebo.

“Awalnya promosi lewat media sosial seperti Instagram. Kemudian banyak orang yang datang,” ceritanya. Biasanya hutan purba akan dipenuhi pengunjung pada hari libur dan pada sore hari di hari-hari biasa (weekdays). Azim kerap mengunggah hutan purba baik dalam bentuk video dan foto di akun media sosialnya. Dari sana kemudian banyak yang menyukai dan menanyakan lokasinya.

Hutan Purba pakai 4
Pre-Wedding

Kini, hutan purba ini tak hanya terkenal di kalangan warga lokal, tapi wisatawan nusantara dan mancanegara bahkan para peneliti juga kerap bertandang ke tempat ini. Hutan ini juga sering dijadikan lokasi foto pranikah. “Sering sekali di sini orang pre-wedding,” ujarnya.

Hutan tersebut merupakan lahan milik pribadi sehingga jika pemerintah melakukan penataan harus seizin pemilik lahan. Azim mengatakan salah seorang pemilik lahan hutan ini adalah seorang tokoh agama dari Mamben. Fasilitas yang telah berdiri saat ini juga dibangun oleh pemilik lahan, bukan pemerintah.

“Yang buat fasilitas ini yang punya tanah, bukan pemerintah. Yang giat promosi juga dari warga sekitar, bukan pemerintah,” jelasnya.

Azim menyebutkan ada tiga orang yang bertugas menjaga hutan purba sekaligus sebagai juru parkir, termasuk dirinya. Tiga orang ini digaji oleh pemilik lahan hutan purba. Ia berharap ke depan pemerintah ikut mengelola objek wisata ini dengan merekrut warga sekitarnya. Menurutnya, jika dikelola pemerintah, dari segi promosi dan penataan akan lebih maksimal. Azim juga merasa khawatir, uang parkir yang dibayarkan pengunjung termasuk pungutan liar (pungli) karena belum ada regulasinya.

Pihaknya memasang tarif parkir sebesar Rp 5 ribu untuk roda dua, dan Rp 10 ribu untuk roda empat. Penghasilan dari penarikan parkir tersebut dikumpulkan dan selain dimanfaatkan untuk menggaji para petugas juga digunakan untuk memperbaiki fasilitas yang tersedia. Komplek hutan purba dibuka sampai pukul 17.00, setelahnya pengunjung dilarang memasuki kawasan ini.

 Hutan Purba Pakai 1

Marak Vandalisme

Pohon Lian adalah jenis pohon purba. Pohon ini dilindungi Undang-Undang dan tidak boleh ditebang. Di atas lahan ini juga tidak boleh dilakukan pembangunan fisik yang dapat mengancam eksistensi pohon purba. Salah satu penjaga objek wisata hutan purba, Agustinus menceritakan usia pohon Lian di komplek hutan itu sekitar 350 tahun.

Agustinus menceritakan ada dua versi cerita muasal pohon tumbuhnya pohon tersebut di wilayah Pringgabaya, Lombok Timur. Beberapa waktu lalu ada seorang warga asing yang datang untuk meneliti dan ia bercerita bahwa biji pohon ini terbawa sampai ke Lombok akibat tsunami yang terjadi di perairan Australia, ratusan tahun silam.

“Versi kedua, Irlandia melakukan penebaran biji pohon ini dan tumbuh di tiga negara yaitu Indonesia, Afrika, dan Australia,” jelasnya. Namun mengenai versi mana yang lebih shahih, perlu kajian lebih mendalam tentang asal muasal pohon dengan batang khas yang lebar ini.

Sayangnya, pohon langka ini tak lepas dari aksi vandalisme. Ada beberapa pohon yang dilukai dengan silet oleh pengunjung yang ingin meninggalkan jejaknya di hutan ini. Agustinus mengatakan ia telah memasang papan pengumuman yang berisi larangan melakukan aksi vandalisme, namun sayangnya dirusak pengunjung.

Banyak juga wisatawan yang memprotes maraknya vandalisme pada batang-batang pohon tersebut. “Makanya kami Pilox (cat semprot) biar tulisannya hilang karena kita banyak diprotes wisatawan,” ujarnya. “Para pengunjung yang datang diminta agar jangan mencoret atau menulis di pohon,” pesannya.

Agustinus berharap agar pohon Lian ini tidak punah, pemerintah melakukan pengembangan dengan menanam kembali biji pohon ini. “Harapannya bijinya dikembangkan lagi agar pohon ini tidak punah,” harapnya. Karena ada beberapa pohon yang mati karena tersambar petir, mengakibatkan ujung pohon ini menghitam. Para pengunjung juga banyak yang meminta bibit pohon ini, tapi tidak boleh diberikan. (ynt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here