Hutan Mangrove di Penyaring Rusak Dibabat Warga

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Kondisi hutan mangrove (bakau) di lokasi Nanga Boro atau muara kali  desa Penyaring kecamatan Moyo Utara kian rusak akibat dibabat. Diduga, hal ini terjadi akibat penguasaan oleh sekelompok orang di wilayah tersebut.

Demikian hasil  penelusuran Komisi II DPRD Sumbawa yang turun langsung ke lapangan, Rabu, 14 September 2016. Terdapat sekitar 5-6 hektar mangrove di Nanga Boro yang sudah rusak. Kondisi ini makin parah apabila terus dilakukan pembiaran.

Iklan

“Menurut masyarakat setempat, dari dulu hutan mangrove ini tidak ada yang menyentuh. Namun setelah ada ganti rugi proyek jalan SAMOTA, diduga sekelompok orang mencoba menguasai dan berharap dapat ganti rugi,” sebut dua anggota Komisi II, Berlian Rayes dan Salamuddin Maula kepada Suara NTB.

Menurut Berlian, penguasaan oleh oknum masyarakat di lokasi tersebut tidak dibenarkan. Mengingat lokasinya merupakan tanah negara. Untuk itu, kondisi ini harus segera ditangani. Sebab tidak mudah mereklamasi hutan bakau. Itupun kerap tidak berhasil. Sementara hutan mangrove sangat penting untuk menjaga abrasi pantai dan menjaga ekosistem laut.

Makanya dalam waktu dekat, pihaknya akan memanggil seluruh instansi terkait.  Pemerintah dalam hal ini harus proaktif menyelematkan kawasan mangrove. “Kami akan secepatnya memanggil para pihak untuk berkoordinasi dalam mencegah kerusakan hutan bakau sebagai pengaman pesisir laut kita,”pungkasnya. (arn)