HUT RI, Gejala Kekeringan di Lotim Resahkan Penduduk

Selong (suarantb.com) – Gejala terjadinya kekeringan di daerah Lenek, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur mulai meresahkan penduduk. Pasalnya gejala tersebut dirasa mulai memengaruhi kuualitas hidup penduduk di saat mereka justru sedang dalam suasana peringatan HUT RI yang ke-71.

Saat ini, air sumur penduduk di beberapa daerah di Lenek, mulai mengalami penyusutan. Sementara, pasokan air bersih dari PDAM sering macet.

Iklan

Salah seorang penduduk, Restu mengatakan kekeringan tersebut berakibat terbatasnya penggunaan air dalam kegiatan keseharian, seperti mandi dan mencuci. Terutama di tempat-tempat pemandian umum dan sumur-sumur galian. Air menyusut drastis sehingga hanya bisa digunakan sekali dalam satu waktu. Jika air sumur digunakan untuk suatu kegiatan, seperti mencuci di pagi hari, maka harus menunggu hingga sore hari agar dapat digunakan kembali.

“Di tempat-tempat seperti pemandian umum, kita harus membatasi diri dalam penggunaan air. Tidak boleh boros, takutnya yang lain nggak kebagian,” ungkapnya kepada suarantb.com, Selasa, 16 Agustus 2016.

Begitu pula dengan air PDAM yang bersumber dari Pancor Dao seringkali mengalami kemacetan, sehingga tidak bisa dimanfaatkan untuk kegiatan harian. Penduduk saat ini lebih mengutamakan memenuhi kebutuhan minum dan memasak menggunakan air PDAM.

Fenomena gejala kekeringan ini diduga akibat pergeseran iklim dan cuaca di wilayah Lombok Timur. Berdasarkan data curah hujan di Badan Informasi Sumber Daya Air (BISDA) NTB, Lombok Timur secara umum mengalami curah hujan paling rendah dibanding wilayah-wilayah lain seperti Lombok Barat dan Lombok Tengah. Selama bulan Juli 2016 di beberapa area Lombok Timur di wilayah Aikmel dan sekitarnya, Ijo Balit dan Pringgabaya, hanya mengalami lima hari hujan dengan angka terbesar 10,1 mm.

“Itu bukan angka yang besar, bukan hujan deras. Dan hujannya tidak lama, berkisar antara jam 19.00 – 20.00 WITA,” terang salah seorang petugas pengamat curah hujan BISDA, Baiq Novi.
Adanya kegiatan galian pabrik batu-bata yang menjamur di wilayah Lenek, ini pun dianggap memengaruhi kurangnya ketersediaan air bersih. Penebangan pohon dan pemanasan di sekitar area pabrik batu-bata mengakibatkan sumur-sumur penduduk menjadi kering dan keruh. Kondisi ini menimbulkan adanya petisi netizen untuk menghentikan aktivitas penggalian untuk menghindari semakin parahnya gejala kekeringan.

  PVMBG Rekomendasikan Buka Jalur Alternatif Pendakian Rinjani

Netizen dengan nama akun Gunaria Sudiarsa menuntut adanya peninjauan izin penggalian tersebut. Tuntutan itu disampaikan Gunaria melalui akun Facebooknya dan didukung oleh netizen lainnya yang meminta masyarakat ikut bergerak mendukung petisi tersebut.
“Tinjau ulang perizinan ‘galian C’ yang semakin menjamur sebelum semua kita sekarat karena dehidrasi kekurangan air bersih,” tulis Gunaria. (rdi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here