HUT NTB Hadirkan Suasana Berbeda, Kehadiran Pemimpin Akselerasi Perubahan

Wakil Gubernur NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalilah bersama seorang warga NTB, beberapa waktu lalu. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) NTB ke – 60 suasananya cukup berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pemprov NTB di bawah kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah,SE, M. Sc dan Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd memperbanyak kegiatan-kegiatan yang melibatkan masyarakat.

Seperti aksi-aksi bersih pantai dan Sungai Jangkuk yang akan dilakukan pada puncak peringatan HUT NTB, Senin, 17 Desember 2018, hari ini. Isu soal sampah menjadi perhatian serius gubernur dan wakil gubernur periode 2018-2023 ini. Bahkan NTB memberanikan diri sebagai zero waste province.

Iklan

‘’Supaya masyarakat bisa merasa memiliki. Jangan sampai HUT itu milik ASN saja,’’ kata gubernur, akhir pekan kemarin.

Selama ini, setelah upacara HUT NTB biasanya tak ada lagi kegiatan yang melibatkan masyarakat. Sehingga, mulai tahun ini, Pemprov melakukan aksi-aksi bersih Sungai Jangkuk, Kota Mataram.

‘’Karena masalah utama kita  masalah sampah. Kalau dibersihkan, mudah-mudahan itu persiapan kita untuk NTB bebas sampah,’’ harapnya.

Ditanya kesannya selama beberapa bulan memimpin NTB, Doktor Zul mengatakan dalam ekonomi peran pemerintah tidak penting-penting amat. Tanpa ada gubernur dan bupati/walikota, perekonomian tetap jalan.

‘’Yang penting tak merecoki dunia usaha. Sekarang bagaimana kita memaknai bahwa kehadiran seorang pemimpin bisa mengakselerasi perubahan dalam pembangunan,’’ kata Doktor Zul.

Oleh karena itu, seorang pemimpin harus memaknai posisinya untuk melayani masyarakat dan dunia usaha. Ia mengatakan, NTB memiliki PR besar kaitan dengan pengangguran, kemiskinan dan ketimpangan.

‘’Mau ndak mau, teori ekonominya mengatakan harus menghadirkan industri pengolahan. Untuk menghadirkan industri pengolahan, berarti kita harus memastikan lingkungan kita kondusif bagi investor,’’ kata gubernur.

Untuk itu, infrastruktur harus disediakan. Karena industri olahan butuh waktu, sedangkan masyarakat butuh segera peningkatan kesejahteraan maka sektor pariwisata harus digesa.

Upaya yang dilakukan bagaimana menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi visitor atau wisatawan. Baik itu kuliner, hotel, transportasi. ‘’Jadi itu tugas  kita yang paling penting. Bagaimana kita bersahabat dengan investasi, investor. Bagaimana kita bersahabat dengan pengunjung,’’ ujarnya.

Dan yang terpenting, kata gubernur bagaimana orang NTB bisa bahagia di tempatnya sendiri. Masyarakat harus dapat menikmati keberadaan investasi. Menurutnya, jika masyarakat  tak menikmati keberadaan investasi, maka tidak ada artinya.

‘’Boleh kita punya KEK Mandalika, punya hotel yang banyak, tapi kalau kita (masyarakat) tak terlibat, untuk apa? Kita menjadi orang miskin di tengah keberlimpahan,’’ kata mantan Anggota DPR RI tiga periode ini.

Untuk itulah, kata gubernur mengapa Pemprov mengirim anak-anak muda NTB belajar ke luar negeri. Pengiriman anak-anak muda NTB belajar ke luar negeri bukan gagah-gagahan. ‘’Ini proses untuk mengakselerasi pembangunan di NTB,’’ pungkasnya. (nas)