Anak Angkat Bunuh Ibu Divonis Penjara 20 Tahun

Terdakwa pembunuhan ibu angkat, Suparman Bahri (kiri) menyeka matanya, Kamis, 23 Januari 2020 di ruang sidang Pengadilan Negeri Mataram usai mendengar hakim yang memvonisnya dengan penjara 20 tahun.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Suparman Bahri alias Supar (30) melangkah gontai dari ruang sidang Pengadilan Negeri Mataram, Kamis, 23 Januari 2020. Warga Kekeri, Gunungsari, Lombok Barat ini baru saja dihukum 20 tahun penjara. Supar yang sempat menangis ini terbukti membunuh Miskiyah, ibu angkatnya.

Majelis hakim yang diketuai Anak Agung Ngurah Rajendra mengucapkan putusan tersebut dalam sidang yang dihadiri jaksa penuntut umum Iman Firmansyah, dan penasihat hukum terdakwa, Deni Nur Indra.

Hakim menyatakan Supar bersalah secara sah dan meyakinkan sesuai dengan dakwaan pasal 365 ayat 4 KUHP, tentang pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan orang meninggal dunia.

“Oleh karenanya, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Suparman Bahri alias Supar dengan penjara selama 20 tahun,” kata Agung membacakan amar putusannya. Hukuman tersebut sama dengan tuntutan yang diajukan jaksa sebelumnya. “Hal yang memberatkan, terdakwa tidak mengakui perbuatannya,” imbuh Agung.

Baca juga:  Mayat Ms X Korban Pembunuhan, Tim Forensik Reka Sketsa Wajah

Nota pembelaan Supar ditolak hakim. Yang mana isinya, Supar membuat alibi bahwa pada waktu kejadian, Sabtu (4/5/2019), dirinya sedang berada di rumah bersama tukang yang memperbaiki plafon. Sementara, saksi tukang tersebut menyebut sudah pulang pada Jumat (3/5/2019).

Pledoi terdakwa dibantah dengan kesaksian dua orang lain, ditambah dengan kesaksian terdakwa lain, yakni sepupunya, Sastria Sopiyandi alias Yan dan Keponakannya, Iswandi Iswanto alias Anto.

Dalam sidang terpisah, Yan juga dihukum bersalah melanggar pasal 365 ayat 4 KUHP, seperti halnya Supar. Agung menjatuhinya pidana penjara selama 15 tahun. Sementara Iswandi Iswanto yang membantu berjaga di luar TKP, mendapat hukuman paling ringan yakni tiga tahun penjara. Jaksa maupun penasihat hukum terdakwa menyatakan masih pikir-pikir atas vonis tersebut.

Baca juga:  Diduga Korban Mutilasi, Penemuan Mayat Terbungkus Sampah Plastik Sampah Gegerkan Warga Senggigi

Dari persidangan terungkap, Supar sakit hati karena urung diberikan ruko milik korban yang berada di Pasar Sayang-sayang, Cakranegara, Mataram. Supar pada Jumat (3/5/2019) lalu menelepon Suparman menelepon Yan dan Anto untuk datang ke Kekeri, Gunungsari, Lombok Barat.

Supar mengajak mereka untuk mengambil uang korban, yang mana pada waktu itu menurutnya korban baru menerima bantuan uang bantuan rehab rumah terdampak gempa sebesar Rp50 juta.

Baca juga:  Mayat dalam Kantong Plastik, Korban Tidak Tercatat Adminduk

Yan dan Anto manut. Sekitar pukul 23.00 Wita, percobaan pertama urung dilakukan karena korban masih terjaga menonton TV. Supar dan Yan kembali lagi pukul 02.00 Wita, Sabtu (4/5/2019).

Supar mematikan saklar utama listrik. Anto berjaga di pintu pagar. Yan menunggu di ruang tamu. Lalu, Supar masuk ke kamar korban sambil membawa balok kayu penyangga pintu. Supar lalu mengayunkan kayu ke kepala korban sampai kayu patah.

Belum cukup, Supar mengambil parang di kolong dipan. Parang itu diayunkan ke leher korban sampai tersungkur. Mereka mengambil tiga karung bongkahan batu emas gelondongan, uang tunai Rp600 ribu, dan ponsel milik korban. Korban ditemukan meninggal dunia pagi harinya. (why)