Tersangka Penerima ‘’Fee’’ Proyek Rusun Dilimpahkan ke JPU

Mantan Kepala SNVT PP Provinsi NTB tersangka penerima fee proyek Rusun Alkahfi Sumbawa, Bulera (duduk kedua kanan) menandatangani administrasi pelimpahan tahap dua di Kejari Mataram, Kamis, 23 Januari 2020.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Polresta Mataram melimpahkan tersangka penerimaan fee proyek rumah susun Satuan Non Vertikal Tertentu Penyediaan Perumahan, Bulera ke jaksa penuntut umum, Kamis, 23 Januari 2020. Pelimpahan tersangka dan barang bukti tersebut sebagai bagian dari tahap penuntutan. Setelah berkas penyidikan dinyatakan lengkap sebelumnya.

Penyidik Unit Tipikor menggiring tersangka dan barang bukti ke Kejari Mataram, Kamis pagi kemarin. “Dilimpahkan karena kasusnya sudah P-21. Berkasnya lengkap,” ujar Kasatreskrim Polresta Mataram AKP Joko Tamtomo.

Dalam kasus itu, tersangka yang adalah mantan Kepala SNVT PP Provinsi NTB ini diduga meminta uang jatah proyek sebesar Rp100 juta dari proyek yang nilainya Rp3,49 miliar tersebut.

Baca juga:  Kasus Pemotongan Gaji Guru Terpencil, Tiga Terdakwa Dituntut Sama

Dalihnya uang administrasi pekerjaan. Kontraktor yang sudah menerima pembayaran pekerjaan kalau tidak memberikan uang maka dalam pengajuan termin diancam tidak akan ditandatangani.

Kepala Kejari Mataram, Yusuf sebelumnya mengatakan, bahwa kasus itu sudah siap diajukan ke pengadilan. Setelah menerima pelimpahan tersangka dan barang bukti, jaksa penuntut umum kemudian menyusun surat dakwaan.

Baca juga:  PPK Proyek Dermaga Senggigi Diklarifikasi

Tersangka Bulera ditangkap dalam operasi tangkap tangan, Rabu (25/9) lalu. tersangka ditangkap di ruang kerjanya usai menerima uang tunai Rp100 juta. Uang itu diberikan kontraktor, CV JU yang sedang mengerjakan proyek Rusun Ponpes Al-Kahfi di Desa Pernek, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa

Provinsi NTB mendapat gelontoran anggaran sebesar Rp20,5 miliar untuk pembangunan Rumah Susun dan Rumah Khusus tahun 2019. Kepala SNVT PP Provinsi NTB Bulera menandatangani kontrak dengan rekanan pemenang tender pada 18 Juli lalu.

Baca juga:  Bule Inggris Meninggal Terapung di Gili Trawangan

Salah satunya, proyek Rusun Ponpes Modern Al-Kahfi Desa Pernek, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa dikerjakan CV Jangka Utama dengan kontrak Rp3,49 miliar. Dugaan permintaan setoran proyek ini yang menyeret Bulera ke dalam penjara. Bulera meminta pungutan administrasi terkait pengajuan termin antara 5 persen sampai 10 persen.

Kontraktor sudah menerima pembayaran uang muka. Namun untuk mendapat pencairan termin, kontraktor harus menyetor uang lebih. Korbannya, sampai harus meminjam uang ke rekan sejawatnya sesama kontraktor. (why)