Januari 2020, Sudah 28 Orang Korban Gigitan HPR

0
5
Ilustrasi vaksin rabies

Dompu (Suara NTB) – Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Dompu, mencatat 28 orang korban terluka akibat gigitan Hewan Pembawa Rabies (HPR), semenjak 1-17 Januari 2020. Temuan itu tersebar di sejumlah kecamatan, kecuali Kempo dan Kilo. Peningkatan KIE, vaksinasi dan eliminasi masih jadi alternatif pencegahan utama.

Kepala Bidang P2P Dikes Dompu, Rahmat, Skm., kepada wartawan di kantornya mengungkapkan, dari 28 orang korban gigitan yang sudah ditangani sarana kesehatan itu, cukup dominan ditemukan di Kecamatan Woja dengan total 14 orang korban. “Sampai dengan tanggal 17 Januari kemarin, nol kejadian itu hanya di Kempo dan Kilo. Yang lain ada semua, terbanyak di Woja,” ungkapnya.

Tak berani dipastikan penyebab meningkatnya jumlah korban gigitan diawal tahun ini. Karena Dikes dalam kewenangannya terbatas pada penanganan korban.

Meski begitu, lanjut Rahmat, berbicara persoalan rabies sebetulnya tidak terlepas dari grafik penanganan ditengah masyarakat yang tidak boleh diam. Sekalipun itu pada daerah dengan temuan kasus gigitan nihil. Artinya, vaksinasi dan eliminasi harus tetap intens dilakukan untuk anjing-anjing yang berkeliaran bebas.

Selain itu, tak kalah pentingnya yakni membangun kerjasama antar pemerintah daerah di Pulau Sumbawa. Sehingga mobilisasi HPR yang terpapar rabies dapat dengan mudah ditekan. “Jangan sampai upaya Dompu kencang, tapi tetangga tidak. Harus sama-sama turun supaya tertangani semua,” jelasnya.

Terpisah, Kadisnakeswan Dompu, Ir. Zainal Arifin, M.Si., dikonfirmasi Suara NTB, Rabu, 22 Januari 2020 membenarkan jikalau sudah ada 28 orang korban gigitan. Kondisi itu tidak lain karena populasi HPR di lapangan terus bertambah di masa pertumbuhan tanaman jagung warga saat ini. Seperti di Desa Dore Bara yang berstatus zona merah misalnya, hampir semua pemilik lahan memiliki anjing peliharaan lebih dari satu.

  Surat Diduga Bodong Berkedok Bantuan Hibah Beredar di Bima

Upaya pencegahan dipastikan tidak jauh berbeda seperti yang sudah dilakukan sebelumnya. Yakni mengintensifkan vaksinasi dan elimininasi. Termasuk Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) agar tetap menaruh kewaspadaan terhadap anjing-anjing yang masih berkeliaran.

“Karena status KLB di Dompu ini belum dicabut dan Pulau Sumbawa masih wabah rabies. Kedepan kita perkuat lagi KIE, termasuk eliminasi anjing-anjing liar. Sepekan terakhir kita sudah mulai dan memang populasinya masih cukup banyak di lapangan,” pungkasnya. (jun)

FacebookTwitterWhatsAppGmailShare

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here