Digagalkan, Penyelundupan Rombeng dari Timor Leste

Pengecekan 100 karung barang bukti pakaian bekas yang diamankan aparat di Sumbawa.(Suara NTB/ind)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Penyelundupan pakaian bekas (rombeng) dari Timor Leste menuju Desa Labuhan Burung, Kecamatan Buer, Kabupaten Sumbawa berhasil digagalkan. Penyelundupan ini digagalkan tim penindakan Bea dan Cukai Sumbawa bekerja sama dengan tim Kanwil DJBC Bali, NTB dan NTT, Sat Polairud Polres Sumbawa, dan Anggota Polisi Militer (POM) Sumbawa saat patroli bersama.

Selain mengamankan barang bukti berupa 500 karung pakaian bekas, tim juga menangkap nahkoda kapal berinisial MT yang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Setelah berproses, tersangka beserta barang bukti dilimpahkan ke  Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumbawa, Selasa, 21 Januari 2020.

Kepala Bea dan Cukai Sumbawa,  Rudie Bayu Widjatnoko dalam konferensi persnya di Kantor Kejari Sumbawa menjelaskan, awalnya pakaian bekas tersebut diangkut dari Pelabuhan Dili, Timor Leste menggunakan sarana pengangkut KLM. Rahmat Ilahi, yang dinahkodai oleh MT menuju Desa Labuhan Burung, Kecamatan Buer, Kabupaten Sumbawa.

Saat melintas di perairan sekitar Pulau Keramat pada Rabu, 20 November 2019 sekitar pukul 16.20 Wita, kapal tersebut dicegat Tim Penindakan dan Penyidikan KPPBC TMP C Sumbawa. Karena diduga mengangkut barang impor yang tidak tercantum dalam manifes atau dokumen pemberitahuan impor barang. Guna memudahkan pembongkaran dan pencacahan muatan, kapal tersebut dibawa ke Pelabuhan Badas.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, diketahui 500 karung pakaian bekas tersebut bernilai Rp 250.000.000. Sedangkan potensi kerugian negara diperkirakan sekitar Rp 146.562.500. Barang buti kemudian diserahkan untuk disimpan di Rupbasan (Rumah Penyimpanan Benda Sitaan) Negara Kelas II Sumbawa.

“Untuk barang bukti kemarin sudah kita titipkan ke Rupbasan 500 karung,” ujarnya didampingi Kajari Sumbawa, Iwan Setiawan, S.H., M.Hum,  Dandim 1607 Sumbawa, Letkol Inf. Samsul Huda, S.E., M.Sc dan Kapolres Sumbawa diwakili Kasat Reskrim, IPTU Faisal Afrihadi, S.H.

Disebutkan Rudie, pelanggaran yang dilakukan merupakan pelanggaran di bidang kepabeanan dan dapat dituntut dengan ancaman pidana. Sebagaimana dimaksud dalam pasal 102 huruf a Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Bunyinya setiap orang yang mengangkut barang impor yang tidak tercantum dalam manifes sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7A ayat (2) dipidana karena melakukan penyelundupan di bidang impor dengan pidana penjara paling singkat 1 tahun dan pidana penjara paling lama 10 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000dan paling banyak Rp 5.000.000.000. Selain itu, kegiatan tersebut juga melanggar Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor: 51/M-DAG/PER/7/2015 tanggal 9 Juli 2015 tentang Larangan Impor Pakaian Bekas. Pada pasal 2, pakaian bekas dilarang untuk diimpor ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Untuk penyelesaian atas pelanggaran tersebut, Tim Penyidik Bea dan Cukai Sumbawa melakukan serangkaian kegiatan penyidikan mulai dari tanggal 21 November 2019  sampai 6 Januari 2020. Kemudian telah ditetapkan sebagai tersangka yaitu MT selaku nakhoda kapal,” terangnya.

Sementara ini, lanjutnya, tersangka yang ditetapkan baru nakhoda kapal yang berinisial MT. Meskipun demikian pihaknya tetap akan melakukan pengembangan guna mendalami kemungkinan adanya tersangka lain. Guna mendalami hal tersebut akan dilihat dari fakta yang terungkap dalam persidangan. “Setelah ini selesai, kita akan kembangkan lagi. Nanti di persidangan kita lihat perkembangannya,” sebutnya.

Sementara Kajari Sumbawa, Iwan Setiawan, S.H., M.Hum menambahkan, sementara ini baru satu tersangka yang ditetapkan. Hal ini merupakan kewenangan mutlak Bea dan Cukai selaku penyidik. Terkait kasus ini, dimungkinkannya ada tersangka lain.

Mengenai pengembangannya penyidikan nantinya akan dilihat, apakah dilakukan oleh Bea Cukai atau pihak kepolisian. Sehingga bisa menjerat tersangka lainnya. Tentunya berdasarkan petunjuk dari kejaksaan.

“Kita lihat perkembangan berdasarkan hasil persidangan. Saya yakin dan percaya teman penyidik Bea Cukai sudah berkoordinasi dengan penyidik Polri. Sehingga kami yang melakukan penilaian  dari penyidikan bisa memberikan satu petunjuk pada teman penyidik. Apakah Bea dan Cukai yang melakukan pengembangan penyidikan atau kita serahkan ke kepolisian,” pungkasnya. (ind)