Mahasiswi Korban Pencabulan Oknum Kepala Sekolah di Bima Alami Trauma dan Depresi

Korban tindak asusila. (ilustrasi)

Bima (Suara NTB) – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Bima akan mendampingi korban pencabulan oknum Kepala Sekolah (Kepsek).

Kepala DP3AP2KB Kabupaten Bima, Drs. Syahrul mengaku pihaknya akan all out memberikan pendampingan. Yakni berupa pemulihan mental kepada korban pencabulan oknum Kepsek berinisial AM dari ancaman keterpurukan jiwanya.
“Akan kita berikan berikan pendampingan. Kita libatkan juga Lembaga Perlindungan Anak (LPA) dan Psikolog,” katanya, Senin, 20 Januari 2020.

Ia mengatakan, korban saat ini tengah mengalami goncangan kejiwaan yang begitu besar. Selain itu juga mengalami depresi berat dan trauma, sehingga perlu diberikan pendampingan. “Bahkan sejak kasus atau persoalan ini mencuat kita sudah memberikan pendampingan kepada korban,” katanya.
Menurutnya, selama proses pendampingan yang dilakukan pihaknya, kondisi korban mengalami perubahan yang signifikan. Korban yang awalnya tertutup, kini sudah perlahan-lahan membuka diri. “Banyak peningkatan selama pendampingan. Korban juga sudah mulai membuka diiri yang awalnya tertutup kepada tim Pendampingan,” katanya.
Selain memberikan pendampingan kepada korban, Syahrul mengaku pihaknya juga akan bekerjasama dengan lembaga yang dimana korban saat ini menempuh pendidikan. Untuk memberikan motivasi dan semangat. “Kita akan terus mendorong agar korban melanjutkan pendidikan dimanapun yang diinginkan,” katanya.

Baca juga:  Pascakasus Striptis, APH Minta Jangan Hanya Tindak Usaha di Senggigi

Menurutnya, langkah tersebut ditempuh karena tidak menutup kemungkinan korban merasa malu untuk melanjutkan kuliahnya setelah video dan foto-foto beredar di sosial media. “Usia korban masih terbilang belia. Jadi masa depannya juga masih panjang,” katanya.
Sebelumnya Kabid Perlindungan Hak Perempuan DP3AP2KB Provinsi NTB, Hj. Erni Suryani S.Sos, MM, menegaskan pihaknya akan memberikan layanan dan pendampingan terhadap korban. “Kita akan mendampingi korban ini. Kita ingin pastikan masa depan korban lebih baik, mandiri dan percaya diri lagi,” katanya.
Erni mengaku, kondisi korban saat ini mengalamai depresi berat, tidak bisa tidur dan tidak mau makan. Bahkan ingin mengakhiri hidupnya karena malu setelah video dan foto-fotonya beredar. “Tapi sudah diberikan terapi dan pengobatan oleh psikolog. Kita akan mengembalikan mental korban,” katanya.

Baca juga:  Terbongkar, Paket Plus-plus Penari Bugil Kafe di Senggigi

Selain itu, Erni mengaku pihaknya juga berkoordinasi dengan salah satu kampus di Bima agar korban tetap melanjutkan pendidikan. Mengingat korban saat ini semester akhir dan sebentar lagi mengikuti program PKL. “Kita ingin mastikan agar pendidikan korban tetap dilanjutkan hingga selesai,” katanya.

Baca juga:  Walikota Akui Kos-kosan di Mataram Masih Rawan Jadi Lokasi Prostitusi

Tidak hanya itu, dalam menampingi kasus tersebut, pihaknya akan berkoordinasi dengan DP3AP2KB Kabupaten Bima serta LPSK untuk melindungi saksi dan korban dari ancaman dan tekanan oknum-oknum tertentu.

“Kata kunci dari persoalan ini ada pada korban sendiri. Tapi korban harus dipulihkan dulu mentalnya karena masih trauma dan depresi berat,” pungkasnya. (uki)