Calo Perekrut 84 Calon TKW NTB Diduga Sindikat Internasional

Para TKW korban dugaan TPPO bersiap pulang ke daerah asal difasilitasi Disnaker Provinsi NTB. (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Upaya pemberangkatan 87 calon Tenaga Kerja Wanita (TKW) unprocedural  tujuan Timur Tengah (Timteng) digagalkan Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) setelah melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di penampungan ilegal di Jakarta. Dari 87 calon TKW tersebut,  tiga orang tetap ingin bekerja ke luar negeri.

Staf Khusus Gubernur NTB Bidang Ketenagakerjaan dan Perburuhan, Imalawati Daeng Combo mengatakan, tiga orang calon TKW asal NTB yang ingin tetap bekerja ke luar negeri tersebut telah difasilitasi Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) untuk bekerja ke negara  Asia Pasifik, seperti Singapura.

‘’Karena dia ingin beralih ke negara tujuan yang tiga orang. Jadi, dia langsung diurus oleh BNP2TKI di sana. 84 orang yang pulang. Awalnya 87 orang itu ilegal, unprocedural. Tiga orangnya diurus legal oleh Kementerian Tenaga Kerja dan BNP2TKI. Mereka memilih ke Asia Pasifik,Singapura,’’ kata Daeng dikonfirmasi Suara NTB, Jumat, 17 Januari 2020.

Baca juga:  Disnakertrans Sumbawa Tunggu Surat Resmi Penempatan CPMI ke Arab Saudi

Tiga calon TKW asal NTB yang tetap memilih bekerja ke luar negeri tujuan negara Asia Pasifik tersebut adalah Maryam Binti Abdul Kadir (30) asal Kecamatan Batulayar, Lombok Barat. Kemudian, Husnul Lendani (30) dan Baiq Yeti (37), keduanya berasal dari Lombok Barat. Ketiganya merupakan mantan TKW yang sudah bekerja ke luar negeri.

Daeng menyebutkan, 87 calon TKW asal NTB yang sudah dipulangkan pada Kamis, 16 Januari 2020 merupakan TKI unprocedural. Calo atau tekong yang memberangkatkan mereka sangat licik. Di mana, semua paspor puluhan calon TKW tersebut dibawa oleh satu orang.

Baca juga:  Pemprov NTB Keluarkan Rekomendasi Pengiriman PMI ke Timur Tengah

Calo yang merekrut 87 TKW asal NTB ini sedang diburu oleh aparat penegak hukum. Daeng mengatakan, identitas calo tersebut belum bisa dipublikasikan. Karena aparat penegak hukum sedang memburu mereka dan jaringannya.

‘’Mereka sindikat, ndak mungkin satu orang. Jelas ini jaringan internasional. Karena motifnya mereka merekrut, kemudian tak ada hubungan dengan pihak Timur Tengah. Semua sarana, prasarana baik finansialnya dari sana semua,’’ katanya.

Daeng mengakui para calo masih marak di NTB. Padahal, Pemda melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) sudah mulai memperbaiki Standar Operasional Prosedur (SOP) pemberangkatan TKI mulai dari tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten. Selain itu, Pemda juga mendirikan Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLKLN) di dekat Bandara Internasional Lombok.

Baca juga:  Buntut PMI Meninggal di Arab Saudi, Tekong Lain Masih Diburu

Bagi Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) yang tidak melakukan pelatihan calon TKI di BLKLN maka izin operasionalnya akan dicabut. Terhadap para calo yang mengiming-imingi masyarakat uang agar menjadi TKI unprecedural, Daeng mangatakan mulai dari Polda, Polres, Polsek sampai Babhinkamtibmas akan memantau dan menangkap mereka.

Diketahui, dari hasil pengambilan keterangan 87 calon TKW asal NTB tersebut, mereka direkrut secara langsung oleh calo atau sponsor dengan diberikan imbalan sejumlah uang sebanyak Rp3 – 10 juta. Dan mereka  tidak mengetahui P3MI yang akan menempatkan.  Dari 84 calon TKW asal NTB yang dipulangkan tersebut, sebanyak 15 orang dari Lombok Timur, 30 orang dari Lombok Barat, 33 orang dari Lombok Tengah, 3 orang dari Sumbawa dan 3 orang dari Kota Mataram. (nas)