Kontraktor Pinjam Uang ke Keponakan Demi Setor Fee untuk Pejabat

Saksi kontraktor pelaksana proyek Pusuk Lestari M Tauhid (kiri) bersaksi untuk terdakwa IJ (kanan) Kadis Pariwisata Lobar terdakwa fee proyek penataan  kawasan wisata, Selasa, 14 Januari 2020.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Kontraktor pelaksana proyek penataan wisata Pusuk Lestari, M. Tauhid memberikan kesaksian dalam sidang terdakwa Kadis Pariwisata Lombok Barat nonaktif IJ, Selasa, 14 Januari 2020.

Tauhid yang meminjam bendera CV Titian Jati itu harus merogoh kocek keponakannya sebesar Rp72 juta. Uang sejumlah itu diberikan ke terdakwa sebagai fee pencairan termin pembayaran.

Tauhid memberikan keterangannya di hadapan majelis hakim Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram yang diketuai Sri Sulastri. Dia menerangkan proses awal dimintai fee sampai akhirnya dia gerah. Bahkan ada alasan personal yang membuatnya tidak nyaman.

“Saya tidak terima dia mengungkit almarhum kakak saya. Membanding-bandingkan dengan saya,” ucapnya menjawab pertanyaan jaksa penuntut umum Lalu Julianto.

Pertemuannya dengan terdakwa dan PPK proyek Gede Aryana yang juga Kabid Destinasi pada Dispar Lobar, di awal kontrak membuatnya semakin terbebani. Pasalnya, terdakwa meminta fee dari proyek senilai  Rp1,588 miliar.

Proyek itu pun dikerjakannya dengan meminjam bendera Hazairin, Direktur CV Titian Jati pemenang tender tersebut. yang mana keuntungan pun masih harus dibagi-bagi lagi.

“Gimana tidak tertekan orang kerjaan di Pusuk sering longsor, ada langsiran juga. Mana diminta fee 8,5 persen. Belum mikirin untung,” keluh Tauhid.

Baca juga:  Pejabat Dispar Lobar Bersaksi Soal Dugaan Pemerasan IJ

Awalnya, kata Tauhid, terdakwa meminta 10 persen. Tapi karena keberatan, besaran fee turun jadi 6,5 persen. Tagihan setoran fee proyek terus datang melalui Gede Aryana. Apalagi kontraktor dua proyek lain yang mengerjakan kawasan Buwun Sejati dan Sesaot sudah menyetor lebih dulu.

“Pak Gede bilang, tinggal Pusuk Lestari yang belum. Kalau tidak setor, tidak ada tanda tangan pencairan termin,” ucapnya. Sampai kemudian Tauhid memutuskan dengan terpaksa memberi setoran tersebut.

Tauhid punya jalan keluar dengan meminjam Rp72 juta dari keponakannya. Usai menarik uang di Bank Mandiri Gunungsari, Tauhid yang diantar langsung keponakannya itu mendatangi terdakwa di kantornya. Uang diselipkan di dalam amplop cokelat dan disimpan di dalam tas ransel abu-abu.

“Saya masuk ruangan Pak Kadis. Saya serahkan semuanya. Cuma sebentar. Saya salaman, langsung pergi,” terangnya.

Pemberian fee proyek pada Selasa 12 November 2019 itu rupanya berbuntut panjang. Tauhid bukannya pulang ke rumah, tetapi malah mampir dulu ke kantor Kejari Mataram. Dia diminta memberi keterangan. Sebab, setelah dia menyetor uang, tim jaksa lalu mencokok terdakwa di ruang kerjanya.

Terdakwa menanggapi kesaksian Tauhid. Yang mana dia membantah terkait permintaan fee sebesar 6,5 persen tersebut. Begitu juga dengan amplop cokelat yang disita dari ruang kerjanya yang tidak diakuinya.

Baca juga:  Pejabat Dispar Lobar Bersaksi Soal Dugaan Pemerasan IJ

Bupati Lobar Bakal Dipanggil Paksa

Hakim Sri Sulastri pun geram dengan praktik pinjam bendera pada proyek itu. Diperparah lagi dengan permintaan fee proyek yang mana semakin menggerus anggaran pekerjaan proyek. “Saudara ingat, ini uang rakyat. Saya tidak habis pikir masih ada yang seperti ini,” ujarnya.

Sri sebelum sidang dimulai sudah dibuat berang lebih dulu. Pasalnya, saksi Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid kembali mangkir dari panggilan pemeriksaan persidangan. Masih ada satu kesempatan lagi bagi jaksa untuk menghadirkan Fauzan yakni pada persidangan pekan depan.

“Jaksa, panggil lagi Bupati Lombok Barat. Kalau masih mangkir, panggil paksa. Semua sama ya, semua harus patuh hukum,” tegas Wakil Ketua Pengadilan Negeri Mataram ini.

Sementara jaksa Julianto mengatakan, saksi Fauzan bukannya tidak hadir tanpa alasan. Pada panggilan pertama, kata dia, Fauzan tidak bisa hadir karena alasan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. “Kalau yang kedua ini saya belum tahu. Yang pertama itu ada suratnya. Nanti saya cek dulu apakah ada lagi suratnya terkait balasan atas panggilan pemeriksaan saksi yang hari ini (kemarin),” pungkasnya. (why)