Proyek Dam Diduga Bermasalah di Spek

Ery Ariansyah Harahap (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Penyelidikan pada pengerjaan dua dam pascabencana di Kota Bima mengarah ke indikasi masalah pada spesifikasi fisik. Penyidik Kejaksaan Tinggi NTB berencana melibatkan ahli untuk memastikan kualitas pekerjaan dam, dengan nilai paket Rp5,2 miliar dan Rp2,2 miliar.

Menurut Aspidsus Kejati NTB, Ery Ariansyah Harahap, SH.,MH, pihaknya mencium indikasi masalah pada fisik dam yang dikerjakan tahun 2017 itu. Kualitas bendungan harusnya mampu membendung air untuk kepentingan irigasi dan tahan dari terjangan banjir pada tekanan tertentu.

‘’Kita lihat itu kan cuma seperti orang ngecor. Susunan batu dan semen. Nah, ambruk ketika datang banjir. Harusnya kan bisa menahan air dan ndak sampai rusak kalau terjadi banjir. Ini yang kita coba dalami,’’ ujar Aspidus Jumat, 15 Maret 2019.

Dari hasil penelusuran awal fisik proyek itu, dam tersebut senilai Rp5,2 miliar. Hitungan lapangan sesuai dokumen, Rp1,9 miliar untuk material batu dan semen. Dengan nilai sebesar itu, justru kekuatan pekerjaan diragukan. Dam hancur saat digerus banjir. Sementara sesuai dokumen diperoleh penyidiknya, nomenklatur pengerjaan dam itu merujuk pada spesifikasi untuk proyek pertanian.

Juklak juknis yang dipakai untuk proyek bidang pertanian, bukan kebencanaan, meski tujuannya untuk penanggulangan bencana banjir yang kemungkinan datang lagi. ‘’Mengacu ke mana sih cara bikin damnya? Masak bisa bikin dengan susunan batu seperti itu? Makanya kita cek, apakah dia betul misalnya 1.500 Meter kubik batu yang digunakan, perlu kita cek lagi,’’ jelasnya.

Berdasarkan dokumen dan data diperoleh itu, akan jadi rujukan pihaknya mendalami lagi pengerjaan dua paket dam di Kecamatan RasanaE Timur Kota Bima itu. Pemanggilan sudah dilakukan terhadap sejumlah pihak, fokus pada panitia, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan rekanan.

  PMI Asal Lobar Dipulangkan dalam Keadaan Tak Bernyawa

Dikonfirmasi soal dugaan dam tersebut dikerjakan dengan modus pinjam bendera? Pihaknya belum sejauh itu melakukan pelacakan. Karena masih fokus pada pekerjaan fisik. Indikasi pinjam bendera akan didalami lebih jauh dan pengaruhnya pada kualitas proyek. Kesimpulan awal itu diperoleh dari hasil cek fisik awal oleh penyidik Pidsus Kejati NTB sebelumnya, terkait proyek Dam Dadi Mboda yang dibangun dengan anggaran Rp 2.247.517.000.

Proyek ke dua, rekonstruksi Dam Kapao di Kelurahan Lampe tahun 2017 senilai Rp 5.653.043.000. Dua proyek tahun anggaran 2017 sumber anggarannya dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bima sebagai proyek infrastruktur pascabencana. (ars)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here