Polisi Pantang Setop Kasus Bale Kebudayaan

Kasatreskrim Polres Mataram, Joko Tamtomo (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Penyidik Unit Tipikor Satreskrim Polres Mataram belum lengkap mengumpulkan data dan keterangan terkait penyelidikan dugaan penyimpangan proyek Bale Kebudayaan tahun 2015. Namun penyelidikan yang dimulai awal tahun 2019 ini belum dihentikan.

“Ada saksi yang sudah meninggal dunia. Kita akan cari cara lain untuk mengumpulkan keterangan,” ucap Kasatreskrim Polres Mataram AKP Joko Tamtomo dikonfirmasi Sabtu, 9 Maret 2019 lalu. Dia menerangkan saat ini penyidik masih fokus mengumpulkan dokumen. Belum mengarah pada klarifikasi saksi-saksi. Penyelidikan dugaan penyimpangan menyasar pada proyek tahap pertama dan kedua.

Baca juga:  Kasus Klinik di Tiga Gili, Polda Kaji Sanksi Selain Pidana

“Ini masih penyelidikan, dugaan penyimpangannya di mana. Dua-duanya (proyek) kita selidiki,” kata Joko. Di tahun 2016 proyek tersebut ditender dengan pagu anggaran Rp2,06 miliar. CV UT memenangi tender dari total 44 peserta yang mengikuti lelang. Proyek dikerjakan dengan nilai kontrak Rp1,74 miliar. Bale Kebudayaan dibangun di area Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pagutan, Pagutan Timur, Mataram.

Baca juga:  Tangani Penginapan dan Hiburan Ilegal, Satpol PP Lobar Tegaskan Tidak Lembek

Kasus ini semula juga mencuat dengan dugaan kelebihan pembayaran kepada rekanan sebesar Rp150 juta. Belakangan sudah dikembalikan. Dalam kesempatan sebelumnya, Direktur CV UT Edi Sofyan mengklaim proyek sudah selesai dikerjakan dengan sukses. Ditandai dengan penyerahan hasil akhir pekerjaan serta pembayaran lunas seluruh item pekerjaan. (why)