Keuangan PT. GNE Diduga Bocor Rp3,1 Miliar

Inspektur pada Inspektorat NTB, Ibnu Salim (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Keuangan PT. Gerbang NTB Emas (GNE) diduga bocor. Nilai kebocoran keuangan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) ini diduga mencapai Rp 3,1 miliar. Nilai ini diduga merupakan akumulasi dari  penggunaan anggaran  dari tahun 2014 – 2017.

Informasi diperoleh Suara NTB , kebocoran keuangan itu diduga akibat kegiatan yang tidak produktif  yang membebani keuangan PT.GNE. Akibat kegiatan yang tidak produktif mengakibatkan PT.GNE merugi.

Akibat kegiatan yang tidak produktif itu, akumulasi keuangan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan mencapai  Rp 3,1 miliar. Menurut informasi, akibat dugaan kebocoran anggaran itu, internal PT. GNE melakukan audit melibatkan auditor independen.

Audit kemudian diperkuat dengan pemeriksaan Satuan Pengawas Internal (SPI).  Dari hasil audit internal, ada indikasi potensi kerugian PT. GNE mencapai Rp 3,1 miliar.

Informasi yang diperoleh Suara NTB , sesuai hasil kesepakatan internal,  akhirnya Direktur Utama (Dirut) PT. GNE meminta Inspektorat  NTB untuk melakukan audit investigasi atas temuan itu.

Dikonfirmasi Suara NTB Kamis, 17 Januari 2019  pagi kemarin, Dirut PT. GNE, H. Syahdan Ilyas melalui petugas keamanan tak bisa melayani wawancara, dengan alasan ada tamu. Saat dikonfirmasi via ponsel, Syahdan Ilyas menolak berkomentar. Khususnya terkait permintaan audit ke Inspektorat.

‘’Itu surat rahasia, ndak boleh. Jadi saya no comment,’’ jawabnya via ponsel, Kamis sore kemarin.

Sepanjang masih dalam proses tindaklanjut ke Inspektorat, ia mengaku tidak bisa memberikan komentar apapun. Masalah itu masih akan dibahas dengan Sekda NTB dan pihak Inspektorat. Setelah itu  baru kemudian akan dipublikasikan.

Terlepas dari permintaan audit, bagaimana hasil pemeriksaan internal sehingga terjadi kebocoran anggaran? ‘’Makanya ndak bisa saya berikan sama Anda. Saya no comment. Biarkan Inspektorat bekerja dulu,”  tegasnya menutup wawancara.

Inspektur pada Inspektorat NTB, Ibnu Salim, SH.,M.Si  membenarkan ada permintaan audit dari PT. GNE ke institusi yang dipimpinnya. ‘’Dari hasil pemeriksaan internal SPI nya PT.GNE,  itu yang diteruskan ke kami untuk audit investigasi, ‘’ jelas Ibnu Salim didampingi  Irbansus, GP Aryadi, S.Sos. MH.

Sudah ada pertemuan awal antaran Inspektorat dengan pihak Sistem Pengendalian Intern (SPI) PT. GNE. Dari hasil pertemuan awal itu, kemudian sedang dalam proses tindak lanjut pihak Inspektorat NTB.  ‘’Kami sharing informasi, mereka paparkan hasil temuan. Sekarang dalam proses tindaklanjut,’’ jelasnya.

Kinerja PT. GNE memang sejak lama jadi sorotan DPRD NTB.  Dewan bahkan menolak perubahan Perda tentang PT. GNE untuk penambahan modal dasar perseroan menjadi Rp75 miliar.

Syahdan Ilyas juga pernah menyatakan, akan ada upaya restrukturisasi sebagai pembenahan internal PT.GNE. Keterangannya dimuat suarantb.com tanggal 22 September 2017. Dalam proses restrukturisasi melibatkan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Inspektorat NTB dan pengawasan internal PT. GNE.

Dari perubahan sebelumnya, diklaim pada tahun 2016 PT. GNE memperoleh keuntungan. Dimana, sekitar Rp745 juta dividen disetorkan ke pemerintah daerah. Pada tahun itu, GNE memperoleh pendapatan sekitar Rp6 miliar. Biaya operasional mencapai Rp4 miliar. Belum lagi pembayaran pajak, gaji karyawan dan lainnya. Sehingga, keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan daerah ini sekitar Rp 1,3 miliar setahun.

Unit usaha  yang sudah diperluas dan sedang dijalankan,  yakni GNE Beton, GNE Perbengkelan dan Assembling, GNE Konstruksi, GNE Perdagangan Umum, GNE Agro. Khusus untuk GNE Perdagangan Umum, akan dibuat outlet-outlet di pondok pesantren, semacam retail modern. Dari beberapa usaha yang dikembangkan ini, lanjut Syahdan, GNE Beton punya prospek bisnis yang menjanjikan dengan omzet mencapai Rp15 miliar. (ars)