Sidang OTT Imigrasi Mataram Ungkap Tarif Suap untuk Setop Kasus

Mantan Kepala Imigrasi Mataram terdakwa suap Rp1,2 miliar, Kurniadie (paling kanan) mendengarkan kesaksian mantan Kasi Inteldakim Yusriansyah Fajrin (kiri) dalam sidang Rabu, 27 November 2019. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Terdakwa korupsi suap Rp1,2 miliar Imigrasi Mataram, Kurniadie dan Yusriansyah Fajrin saling memberi keterangan sebagai saksi. Terungkap bahwa suap setop kasus tak hanya Wyndham Sundancer saja. Melainkan kasus lain yang tarifnya lebih kecil. Rata-rata di bawah Rp100 juta.

Hal itu diungkapkan Yusri saat bersaksi untuk terdakwa mantan Kepala Imigrasi Mataram Kurniadie, Rabu, 27 November 2019. Sidang saksi mahkota itu dipimpin ketua majelis hakim Isnurul Syamsul Arif di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram.

Yusri, mantan Kasi Inteldakim Imigrasi Mataram mengawali dengan menjelaskan dirinya yang mendapat surat perintah tugas pengawasan dua WNA Geoffrey William Bower dan Manikam Katheerasan dari Kurniadie.

Sampai dari hasil pemeriksaan, tim penyidik PPNS akhirnya menemukan indikasi pidana pelanggaran izin tinggal. Lalu Direktur PT Wisata Bahagia Indonesia Liliana Hidayat rela menyetor uang agar kasus dua WNA yang ikut mengelola Wyndham Sundancer Lombok Resort itu tidak maju ke persidangan. Nego deal di angka Rp1,2 miliar.

Jaksa penuntut umum KPK Lie Putra Setiawan menanyakan perihal praktik serupa sebelum kasus Wyndham terungkap. “Saya ingatnya ada beberapa kasus. Di awal Januari yang WNA China itu nilainya di bawah Rp100 juta. Yang Rp1,2 miliar ini saya kaget,” jawab Yusri.

Baca juga:  ABI Belum Sepenuhnya Kembalikan Uang Mantan TKI

Tak hanya itu, pungutan liar dari pengurusan paspor hilang dan rusak juga bukan cuma di era Kurniadie saja. Yusri mengaku hanya meneruskan kebiasaan kotor itu setelah dirinya mulai masuk dinas Oktober 2018 lalu.

Lie mengungkapkan bahwa sepanjang Januari-Mei 2019, Seksi Inteldakim yang dipimpin Yusri mengumpulkan Rp1,292 milar dari pungutan pengurusan paspor rusak atau hilang tersebut.

“Sebelum saya sudah ada. Kita ikuti saja yang lama. Setiap ada yang masuk saya bikin list lalu lapor ke Kurniadie. Kurniadie ambil 30-35 juta. yang tentukan pembagian Kurniadie,” terangnya.

 

Kurniadie Mengaku Salah

Dari kasus Wyndham, Kurniadie yang pernah bertugas di Atambua, NTT dan Madiun, Jawa Timur ini mendapat jatah Rp800 juta. Rp345 juta disimpan di rekening, Rp200 juta di koper biru, Rp150 juta dititip ke Istri, dan Rp100 juta jadi hadiah untuk pelapor, Rp75 juta untuk pejabat Kanwil, dan Rp16 juta dipakai sendiri.

Kurniadie mengaku uang tersebut sudah dikembalikan dan menjadi sitaan KPK. Namun masih ada minus Rp125 juta dari koper biru. Yang mana, Rp75 juta dicuri ajudan Kurniadie, Hamdi untuk dibagi bertiga dengan Kasubbag TU Deny Chrisdian dan Kasi Statuskim, Rachmat Gunawan.

Baca juga:  Diduga Mangkrak, Polisi Dalami Proyek Renovasi Gedung DP2KB Kota Mataram

Kurniadie juga mengaku mengetahui mengenai pungutan paspor yang dikoordinir Yusri. Walaupun gajinya sebagai Kepala Kantor dalam satu bulan bisa sampai Rp30 juta. Bahkan, dia memiliki rekening khusus untuk menampung uang dimaksud.

“Saya terima. Saya tidak tahu mana yang hasil ganti uang atau hasil pungli. Kadang dikasinya langsung cash kadang juga transfer. Memang ada rekening saya untuk dari yang gado-gado itulah,” urai Kurniadie.

Selain menampung SPPD, rekening itu juga yang dipakai Kurniadie untuk menampung uang bisnis sampingannya. Diakuinya, dia punya pemasukan lain dari hasil jual beli tanah.

“Saya ada dapat komisi dari jual beli tanah. Saya ingatnya antara Rp20 juta sampai Rp30 juta,” terangnya.

Kurniadie dan Yusri didakwa menerima suap sebesar Rp1,2 miliar dari Direktur PT WBI Liliana Hidayat. Uang itu untuk menghentikan penyidikan kasus penyalahgunaan izin tinggal dua WNA investor Wyndham Sundancer Resort, Manikam Katheerasan dan Geoffrey William Bower. (why)