Waspadai Narkoba Baru Jenis Kratom

Gede Sugianyar Dwi Putra (Suara NTB/ars)

MENKES RI menetapkan perubahan penggolongan narkotika. Dimana, salah satunya terdapat narkoba jenis baru yakni Mitragyna speciose alias kratom alias ketum. Kratom sering digunakan pada suplemen makanan dan obat tradisional. “Publikasi data peredaran kratom sangat minim namun jual beli kratom sangat intens secara online di internet,” ungkap Kepala BNN Provinsi NTB, Brigjen.Pol.Drs. Gede Sugianyar Dwi Putra dikonfirmasi akhir pekan lalu.

Kratom diidentifikasi sebagai Newa Psychoactive Substance (NPS). Yaitu narkoba jenis baru hasil sintetis. NPS juga lazim disebut narkoba sintetis, legal highs, herbal highs, pil pesta, kokain sintetis, ganja sintetis, ekstasi herbal, dan banyak nama lainnya.

Menkes RI sudah menerbitkan Permenkes RI No 44/2019 tentang perubahan penggolongan narkotika. Dimana terdapat daftar narkotika golongan I sebanyak 175 jenis, golongan II sebanyak 91 jenis, dan narkotika golongan III sebanyak 15 jenis. Salah satunya kratom.

“Kratom atau ketum mengandung alkaloid mitragynine yang memiliki efek samping toksik pada tubuh dalam penggunaan waktu singat, waktu lama, bahkan walaupun sudah putus obat,” kata Sugianyar.

Penyalahgunan kratom menunjukkan gejala agresif, sakit pada tulang dan sendi, pergerakan linglung, anoreksia, berat badan turun, insomnia, kejang-kejang apabila digunakan dengan dosis tinggi atau dikombinasikan dengan obat lain.

Efek lainnya, intrahepatik, cholestasis, psikosis, ganguan pernafasan, penyakit hipotiroid. “Dapat menyebabkan kematian apabila dicampur dengan bahan kimia lainnya,” kata Gede mengingatkan resiko paling berat efek Kratom tersebut.

Di Indonesia, imbuh dia, sedang dalam proses pelarangan. Dia mengimbau masyarakat NTB agar tidak mengonsumsi suplemen makanan dan obat tradisional yang mengandung Kratom. (why)