Suap Rp1,2 Miliar Imigrasi Mataram, Uang Tunai Barang Bukti KPK Dirusak

Kasi Statuskim Imigrasi Mataram Rachmat Gunawan (paling kiri) dan Kasubbag TU Imigrasi Mataram Deny Crisdian (kedua kiri) memberikan keterangan untuk terdakwa Kurniadie, Kamis, 14 November 2019 lalu. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – KPK masih menunggu pembuktian terkait perusakan barang bukti kasus suap Rp1,2 miliar Imigrasi Mataram. Uang tunai di dalam koper biru dibagi-bagi. Namun bukan oleh terdakwa mantan Kepala Imigrasi Mataram, Kurniadie.

Dalam persidangan di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram terungkap, dua pejabat Kantor Imigrasi Mataram Rachmat Gunawan dan Deny Crisdian membagi rata uang hasil suap, dengan petugas keamanan rumah dinas Kurniadie, Hamdi.

Uang tunai Rp75 juta dibagi rata masing-masing Rp25 juta. Uang tersebut disimpan di dalam koper biru di kamar rumah dinas Kurniadie, yang belum sempat digeledah KPK, pada Selasa, 28 Mei 2019. Rumah dinas itu dalam posisi disegel KPK.

“Untuk menindaklanjuti itu saya perlu berkoordinasi dengan penyidiknya. Untuk yang seperti ini kan kewenangannya penyidik,” ungkap jaksa penuntut umum KPK, Lie Putra Setiawan, Rabu lalu.

Dalam persidangan terungkap, koper tersebut diambil Hamdi dengan cara diam-diam dari dalam rumah dinas Kakanim Mataram. Awalnya, dia mendapat perintah langsung dari Kurniadie.

“Waktu itu saya dapat amanah dari Pak Kurniadie untuk mengamankan koper di dalam rumah dinasnya,” ujar Hamdi menjawab pertanyaan Jaksa KPK ke hadapan Majelis Hakim yang diketuai Isnurul Syamsul Arief.

Atas perintah itu, Hamdi lalu meminta izin ke Deny. Deny lantas memanggil dan Rachmat. Mereka tinggal di kompleks rumah dinas yang sama. “Saya masuknya (rumah dinas Kurniadie) dengan cara lompat pagar,” ucapnya.

Setelah koper tersebut diamankan, Hamdi langsung membawanya ke rumah dinas Deny yang menjabat sebagai Kasubbag Tata Usaha Kantor Imigrasi Mataram.

Deny membuka koper di dalam rumah dinasnya. Tak berselang lama, Deny keluar dan memberi Hamdi uang Rp5 juta. Keesokan harinya, Hamdi dapat tambahan lagi Rp20 juta. “Saya sempat tanya ini uang apa, tapi dibilang itu pakai lebaran,” kata Hamdi. Hamdi baru bisa mengembalikan uang itu Rp15 juta karena Rp10 juta sudah habis dipakainya.

Deny membenarkan bahwa Hamdi datang membawa koper yang diamankan dari rumah dinas Kurniadie. “Waktu itu menjelang sahur, sekitar jam 02.00 Wita dinihari. Dia datang bawa koper yang baru diamankan dari rumah dinas Kurniadie,” ujar dia.

Setelah mengetahui isinya, Deny membagi uang tersebut dengan Rahmat Gunawan dengan transfer rekening. “Dua kali saya transfer ke Pak Rahmat, pertama Rp20 juta, kedua Rp5 juta. Saya Rp25 juta dan sisanya saya berikan ke Hamdi,” ungkapnya.

Namun seluruh uang yang dia dapatkan dari koper Kurniadie ditambah dengan uang yang diterima dari Yusriansyah Fazrin, hingga jumlahnya mencapai Rp30 juta, utuh diserahkannya ke penyidik KPK.

Saat disinggung terkait dengan pertimbangan dia membuka koper dan mengambil isinya tanpa izin Hamdi yang mendapatkan amanah dari Kurniadie, Deny menjawabnya dengan alasan lebaran. “Ya karena menjelang lebaran itu,” ujar Deny.

Jaksa KPK Lie Putra Setiawan mengingatkan agar para saksi tersebut berterus terang dan menyesali perbuatannya. Sebab menurutnya, hal itu terindikasi ada mufakat merusak barang bukti KPK. “Mohon maaf ya pak, kalaupun ini tidak disegel KPK, atau yang mana itu uang pribadi terdakwa, apakah bapak tidak berpikir apa yang bapak-bapak lakukan ini perbuatan pencurian?,” kata Lie menanggapi kesaksian Rachmat dan Deny.

Sementara Rachmat mengaku mau memakai uang itu karena didesak kebutuhan lebaran. Meskipun dia mencurigai uang itu adalah hasil suap yang diterima Kurniadie. “Uang Rp30 juta sudah saya serahkan ke penyidik KPK, yang terpakai cuma Rp5 juta saja,” ujar Rahmat. Atas kesaksian itu Kurniadie memberi tanggapan. Dia menolak keterangan saksi Deny dan Rachmat yang menyebut isi koper sebesar Rp75 juta. “Uang yang ada dalam koper itu bukan Rp75 juta, tapi Rp200 juta,” kata Kurniadie. (why)