Proyek Wisata Pusuk Diduga Jadi Objek Pemerasan Kadispar Lombok Barat

Papan informasi proyek Pusuk Lestari. Pada banner tertulis, proyek senilai Rp 1,5 miliar itu didampingi TP4D Kejari Mataram. (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Terungkap, diduga objek proyek yang jadi sasaran pemerasan Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat (Lobar), IJ salah satunya di taman wisata Pusuk Lestari. Rekanan pelaksana CV. TJ diduga dipaksa menyetor fee dari pekerjaan senilai Rp1,5 miliar tersebut.

Lelang proyek ini dimenangkan  CV TJ setelah melalui proses kualifikasi dan menandatangani kontrak pekerjaan sebesar Rp 1.588.663.000, dari total pagu anggaran Rp 1.842.000.000. Kontrak pekerjaan dimulai tanggal 19 Agustus selama 120 hari. Sumber biaya,  Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2019.

Penelusuran Suara NTB, lokasi proyek berada di kawasan hutan Pusuk yang berbatasan dengan Kabupaten Lombok Utara, masuk wilayah Desa Pusuk Lestari, Kecamatan Batu Layar, Lobar. Fisik pekerjaan berupa rabat jalan menanjak menuju ketinggian sekitar 250 meter. Pada ketinggian ini, terdapat kegiatan pembangunan taman. Dari taman, terhubung dengan tangga turun naik yang dibangun untuk akses pengunjung namun belum rampung. Pada paket lainnya, terdapat kegiatan pembangunan rest area yang masih setengah pengerjaannya.  Di area ini kegiatannya berupa pengerjaan musala dan toilet serta area parkir.

Meski pimpinan perusahaan MZ sedang berurusan dengan Kejaksaan karena diduga jadi korban pemerasan, tak mempengaruhi proses pekerjaan. Sejumlah tukang bangunan terlihat sedang mengerjakan pondasi parkir. Sementara musala sudah setengah jadi. Untuk toilet terlihat sedang penembokan dan pemasangan rangka baja. Di dua item pekerjaan ini tidak ada aktivitas pekerja.

Sedangkan untuk pekerjaan area parkir, sejumlah pekerja tetap beraktivitas melanjutkan proyek yang masih tahap awal tersebut. Mereka tak menyadari di balik pekerjaan itu sedang dibelit proses hukum.

Upaya Suara NTB menemui pengawas dan kontraktor pelaksana belum berhasil. Di lokasi hanya bertemu dengan Amre, penyuplai material batu, pasir dan tanah.  Ia kaget mengetahui kabar Kadispar Lobar IJ terjaring OTT. ‘’Saya baru tahu.  Pak Kadis itu sebelumnya sempat datang terakhir minggu lalu. Dia cek-cek proyek,’’ kata Amre.

Dengan kejadian OTT terhadap Kadispar itu dia berharap tidak mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan, karena bagaimana pun juga material sudah disuplainya. Namun diyakininya, OTT tidak ada hubungan dengan proyek. Kontraknya langsung dengan CV. TJ.  “Saya tetap dibayar. Setiap selesai suplai, langsung dibayar kontraktor,’’ ujarnya.

Selain proyek di Pusuk, dua objek lainnya juga diduga jadi sasaran pemerasan oleh tersangka. Masing-masing, proyek penataan objek wisata Sesaot, Kecamatan Narmada Lobar.  Pelaksana pekerjaan PT. BB dengan nilai kontrak Rp 1.065.798.546, dengan total pagu Rp 1.300.000.000. Proyek mulai dikerjakan tanggal 24 Juni 2019. Perusahaan yang sama juga mengerjakan proyek lanjutan penataan wisata Lingsar senilai Rp400 juta.

Hasil penelusuran lainnya, sedikitnya ada dua titik objek proyek yang ditangani Dispar Lobar lainnya. Seperti pelaksanaan penataan kawasan wisata Gunung Sasak, nilai pekerjaan  Rp 1.740.000.000 dengan pelaksana pekerjaan CV. LDJ. Proyek lainnya, penataan objek wisata Buwun Mas Sejati, di Kecamatan Sekotong, kontraktor pelaksana CV AY, dengan nilai kontrak pekerjaan Rp 1.163.306.911.

Dikonfirmasi terkait sejumlah objek  proyek yang jadi sasaran dugaan pemerasan? Plh. Kasi Pidsus Kejari Mataram, Deddi Diliyanto, SH membenarkannya.

Khususnya untuk objek penataan wisata Pusuk. Namun ia enggan merinci lebih detail, karena masih proses penyelidikan. ‘’Iya, itu memang salah satunya. Tapi ini masih kita kembangkan terus. Belum bisa rinci dulu ya,’’ jawabnya ditemui di ruangannya, Rabu, 13 November 2019.

Fee proyek yang diduga diminta dari pengerjaan objek wisata ini sebesar lima persen. Jika dihitung dari total nilai kontrak, maka fee-nya sebesar Rp75 juta. Sementara barang bukti yang disita Rp 95.850.000, apakah jumlah ini terkumpul dari kontraktor lain? Menurut Deddi, untuk mengetahui sumber anggaran, pihaknya harus meminta keterangan para kontraktor pelaksana. ‘’Dari keterangan- keterangan itu nanti kita rangkai kronologinya. Supaya tahu, dari mana saja uang yang terkumpul Rp 95 juta lebih  itu,’’ jelasnya.

Guna mendalami dugaan pemerasan sesuai yang disangkakan kepada IJ itu, pihaknya sudah meminta keterangan kontraktor pelaksana. Dari lima saksi yang dipanggil dan diperiksa hingga petang kemarin, diantaranya kontraktor pelaksana. ‘’Sudah lima saksi kita periksa. Ada sebagian kontraktornya,’’ kata Deddi namun enggan merinci nama dan perusahaan yang diperiksa, dengan alasan demi kelancara penyelidikan. (ars)