Bandar Tramadol Ditangkap

Polres Mataram mengamankan pengedar Tramadol, LR (duduk depan) di Lingsar, Lombok Barat. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Seorang pria, LR (39) ditangkap. Warga Lingsar, Lombok Barat ini diduga mengedarkan obat keras daftar G, Tramadol dan Triheksipenidil. Total barang bukti obat itu mencapai 19.484 butir. Kedok tersangka LR bekerja sebagai tukang ini terbongkar. Hal itu setelah dua pembeli, KH dan AF kepergok baru selesai bertransaksi Rabu, 30 Oktober 2019. Mereka mengakui membeli 10 strip setara 100 butir seharga Rp250 ribu dari LR.

“Tersangka ini mempunyai bos yang ada di Jakarta. Dia sudah tiga bulan berjualan,” ungkap Kapolres Mataram AKBP H Saiful Alam didampingi Kasatresnarkoba AKP Kadek Adi Budi Astawa, Kamis, 31 Oktober 2019. LR kemudian ditangkap. Rumahnya digeledah. Ditemukan dua dus dan satu plastik berisi strip obat. Dari bungkus stripnya, teridentifikasi adalah Tramadol dan Triheksipenidil.

Baca juga:  Bekas Pemandu Wisata Diduga Jadi Pengedar Sabu

Sejumlah barang bukti disita dari rumah LR. Antara lain, satu kardus berisi Triheksipenidil sebanyak 1.250 strip atau 12.500 butir; satu kardus berisi Tramadol sebanyak 505 strip atau 5.050 butir; 994 butir obat tanpa merek; dan 84 strip atau 840 butir Tramadol. Uang tunai sebesar Rp340 ribu juga disita. Diduga hasil penjualan obat tersebut. LR diduga membeli barang itu dari seseorang berinisial RH dai Jakarta. Berdasarkan bukti transfer rekening bank.

“Obat ini sebagai sediaan farmasi sudah dilarang dan tidak mempunyai izin edar. Artinya obat yang punya efek menenangkan ini diedarkan secara gelap,” sebut Alam. Sementara LR mengaku memakai Tramadol agar kuat begadang. Selain itu, selama tiga bulan belakangan ini, dia juga menjual dengan melayani pembelian dari rumahnya. Dia mengambil keuntungan berlipat dari penjualan.

Baca juga:  Titipan Sabu Giring Rian ke Penjara

“Dari bos lima strip saya dikasih Rp180 ribu pak. Saya jual lagi Rp220 ribu. Sehari bisa Rp1,5 juta saya dapat. Tidak saya ambil semua karena sudah dipantau sama orang dari Jakarta,” beber LR. LR disangka melanggar pasal 197 juncto pasal 98 ayat 2 dan ayat 3 UU RI No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda  Rp1 miliar. (why)