Kadistanbun NTB dan Rekanan Diperiksa Penyidik Kejagung

Kadistanbun Provinsi NTB, H. Husnul Fauzi dan rekanan penyedia bibit Jagung Aryanto Prametu beberapa saat setelah keluar dari ruang pemeriksaan penyidik Satgasus Kejagung. (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) melanjutkan penyelidikan kasus dugaan bibit jagung palsu tahun 2017. Giliran Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB, Ir. H. Husnul Fauzi , M.Si diperiksa Kamis, 31 Oktober 2019. Bersamaan dengan Husnul, rekanan penyedia bibit juga dimintai keterangan terkait bibit yang rusak 198 ton.

Husnul Fauzi yang datang sejak pagi, masuk ke ruang pemeriksaan lantai tiga gedung Pidsus Kejati NTB, menemui penyidik Satgasus Jampidsus Kejagung. Pemeriksaan sempat jeda pukul 13.00 Wita, Husnul Fauzi enggan berkomentar.  ‘’Saya salat dulu. Nanti balik lagi,’’ jawabnya singkat.

Saat bersamaan dimintai keterangan juga Ariyanto Prametu, salah satu rekanan penyedia bibit jagung yang didatangkan oleh distributor dari Jawa Timur itu. Ariyanto juga dimintai keterangan cukup lama di ruangan yang sama.  Sementara Husnul Fauzi kembali masuk ke dalam ruangan pemeriksaan sekitar pukul 14.00 Wita. Keduanya selesai diperiksa sekitar pukul 15.30 Wita.

 Husnul Fauzi yang dikonfirmasi, mengaku pengadaan bibit dari Kementerian Pertanian untuk NTB mendapat jatah 210.000  hektare.  Luasan itu untuk seluruh NTB, kecuali Kota Mataram.

‘’Pokoknya kita dapat 210 ribu hektare,’’ jawabnya. Ketika pertanyaan berlanjut soal indikasi label bibit palsu, Husnul enggan menjawab.  ‘’Kan itu sudah materi (pemeriksaan, red), tanyakan aja ke penyidik,’’ sarannya.

Baca juga:  Anggaran Sewa Rumdis Bupati-Wakil Bupati KLU Sesuai Permendagri

Namun pada intinya, lanjut dia, dari 210 hektare tersebut, semua bibit yang diberikan tidak ada masalah dari segi spesifikasi dan label. ‘’Kalau kita sudah clear, tidak ada masalah. Kerjaan sudah selesai,’’ ujarnya kemudian berlalu.

 Beberapa saat kemudian, Aryanto Prametu keluar dari ruang pemeriksaan. Kepada wartawan, ia mengakui ada keluhan soal bibit jagung setelah diterima kelompok tani. Tapi semua keluhan itu sudah dijawab dengan penggantian bibit sesuai dengan kuota.

Ya kan, diindikasikan ada yang ilegal. Tapi kan itu bukan dari kita, itu produsen,” kata Ary.

 Diakui, bibit itu sebelumnya sudah didistribuskan ke kabupaten dan kota yang mengusulkan bantuan. Namun Aryanto tidak menyebut berapa ton bibit yang rusak. Total 198 ton yang rusak dan diduga tidak sesuai spesifikasi dinilainya hanya temuan versi Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Provinsi NTB.

Tapi ia tidak mengelak ada kerugian negara miliaran rupiah, namun tak disebutkan angkanya.

Dalam pengadaan bibit bawang senilai Rp 170 miliar yang anggarannya bersumber dari Kementerian Pertanian (Kementan) ini, Aryanto mengaku rugi cukup besar. Kerugian pertama, ia harus mengganti bibit yang sebelumnya dibeli dengan harga normal. Kerugian kedua, perusahaannya pun harus merogoh miliaran rupiah untuk mengganti kerugian sesuai dengan temuan Inspektorat Jendral. ‘’Berapa M (miliar, red) itu ya?, datanya di kantor,’’ jawabnya.

Baca juga:  Kadis PUPR Lotim dan Rekanan Jadi Tersangka Dugaan Korupsi Pembangunan Pasar Sambelia

Tapi sekali lagi, ia mengaku siap bertanggung jawab untuk mengganti kerugian negara jika memang ada temuan penyidik Kejaksaan. ‘’Saya ini sudah ganti dua kali. Ganti senilai pengadaan, ganti kerugian. Tapi nanti kita pasti balikin semua,’’ ujarnya.

Sementara proses penyelidikan Satgasus Jampidsus itu dipastikan berakhir kemarin. Menurut Ketua Tim Penyidik Abvianto, SH.,MH, rangkaian pemeriksaan berakhir kemarin setelah semua saksi sudah dipanggil dan dimintai keterangan, kecuali Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bima, H. Tayeb.

‘’Kita semua sudah periksa saksi. Kecuali dari kalangan Dinas Pertanian Kabupaten Bima,’’ ujarnya. Bagaimana dengan saksi yang belum hadir? Dipastikan akan dipanggil ke Kejaksaan Agung. ‘’Kita sudah panggil sejak hari Rabu, tapi sampai sekarang kan tidak hadir. Maka, kita panggil ke Kejaksaan Agung,’’ ujarnya. (ars/why)