Mantan Petinggi Bank NTB Cabang Syariah Dompu Dihukum Empat Tahun Penjara

Mantan Kepala KCPS Bank NTB Dompu A Hafid dinaikkan ke mobil tahanan usai menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Mantan Kepala Kantor Cabang Pembantu Syariah (KCPS) Bank NTB Dompu, A Hafid dihukum bersalah karena korupsi kredit fiktif Rp1,5 miliar. Terdakwa Hafid divonis penjara selama empat tahun penjara. Selain itu, dia diwajibkan membayar denda Rp200 juta.

Juru Bicara Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram Fathurrauzi mengatakan, vonis tersebut dibacakan dalam sidang yang dipimpin ketua majelis hakim Anak Agung Putu Ngurah Rajendra.

“Vonisnya, empat tahun penjara,” ucapnya, Selasa, 29 Oktober 2019.

Hakim yang akrab disapa Ojik ini menambahkan, terdakwa juga dibebankan untuk membayar denda sebesar Rp200 juta. Dengan ketentuan, apabila tidak dibayar, maka wajib diganti dengan kurungan selama satu bulan.

Menurut hakim, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar pasal 2 UU RI No 20/2001 tentang perubahan atas UU RI No 31/1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Baca juga:  Anggaran Sewa Rumdis Bupati-Wakil Bupati KLU Sesuai Permendagri

Terdakwa Hafid tidak dibebani membayar uang pengganti kerugian negara. “Uang pengganti sudah dibebankan kepada terpidana Faesal dalam sidang terpisah sebelumnya,” jelas Ojik.

Sebelumnya, jaksa penuntut umum meminta majelis hakim agar menjatuhi Hafid dengan hukuman penjara lima tahun, denda Rp200 juta subsider dua bulan. Vonis hakim tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa.

Hakim menilai Hafid lalai dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Hafid turut serta dengan mantan analis kredit, Faisal untuk menyetujui permohonan kredit fiktif.  Terdakwa tidak melaksanakan aturan sesuai SOP tentang aturan pembiayaan sehingga menimbulkan kerugian keuangan negara.

Baca juga:  Kasus Gedung Balai Nikah Labangka, Jaksa Ekspose dengan Auditor

Nasabah kredit tidak ditelaah kemampuannya. Bahkan diantaranya hanya berupa nama yang fasilitas kreditnya dimanfaatkan Faisal. Hafid juga turut mendapat fasilitas kredit dengan mendompleng masuk anggota kelompok tani.

Hafid tetap menyetujui kredit yang diajukan Faisal. Padahal Faisal mencatut nama orang lain dalam permohonan kredit jual beli. Tujuannya, kredit yang seharusnya untuk kebutuhan jual beli itu dipakai untuk menutupi pembayaran kredit pada pinjaman di bank lain.

Hafid membantu Faisal meloloskan pengajuan kredit 14 nasabah sepanjang rentang waktu tahun 2013-2015. Sebagai pimpinan, Hafid menyetujui pengusulan kredit yang dimanipulasi Faisal. (why)