Distanbun Akui Bibit Rusak 190 Ton

Ilustrasi Jagung (suarantb.com/pexels)

Advertisement

Mataram (Suara NTB) – Pihak Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB mengakui ada bibit jagung yang bermasalah saat pengadaan tahun 2017. Jumlah bibit rusak itu mencapai 190 ton, sesuai temuan Balai Pengawasan Sertifikasi Benih (BPSB) Provinsi NTB.

Fakta itu diungkap mantan Kabid Pertanian Distanbun Provinsi NTB Lalu Muhammad Syafriari usai diperiksa sebagai saksi Selasa, 29 Oktober 2019 kemarin di gedung sementara Kejati NTB. Ia diperiksa oleh penyidik Satgasus Jampidsus Kejaksaan Agung RI dalam kapasitas sebagai pejabat saat pengadaan bibit itu tahun 2017.

Lalu Muhammad Syafriari mengakui ihwal pengadaan bibit ini berawal dari kebijakan pemerintah pusat menyediakan kuota bibit 70 persen, termasuk untuk NTB. Dengan harapan, NTB swasembada jagung.

Nah, apakah telah sesuai? Pada umunnya memang sesuai. Meskipun dalam pelaksanaanya ada hal-hal  yang tidak kita  inginkan, karena 2017 itu kan kuota cukup besar 70 persen,’’ kata mantan pejabat yang sudah pensiun setahun lalu ini.

Ditanya soal berapa jumlah bibit yang bermasalah, diakuinya sesuai dengan temuan BPSB. “Ya sekitar itulah, antara 180 sampai 190 ton, sesusai temuan BPSB,’’ ujarnya.

Dalam catatannya, temuan masalah itu pada bibit jenis Hibrida 3 untuk varitas Bima Uri 15, Bima Sayang 20 dan Premium 919.  Indikasinya, kualitas benih tidak sesuai harapan petani. Sedangkan jenis benih Hibrida 2 untuk varitas NK, Pioneer, Bisi 2 dan Bisi 18, tidak ada masalah.

Ia menduga besarnya kuota yang disediakan saat itu, sehingga ada penyedia atau rekanan yang nakal memberikan bibit tidak sesuai spesifikasi. Meskipun, lanjutnya, berlabel dan melalui proses sertifikasi. Meski demikian, tetap berpulang pada penilaian BPSB yang menemukan masalah pada jenis Hibrida 3.

“Untuk tahun 2017 peluang 70 persen inilah kemudian muncul penangkar penangkar benih. Mungkin ada yang nakal memanfaatkan kebijakan ini,” duganya. Diperkirakan, proses handling bibit yang tidak sempurna, sehingga ketika sampai ke tangan petani dalam kondisi berjamur dan membusuk.

Total penyedia saat itu enam perusahaan, mengambil bibit dari Jawa Timur karena tidak ada penangkar  penyedia bibit di NTB. namun ia mengaku tidak hafal nama nama perusahaan dimaksud.  (ars)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.