Satu Aplikator Nakal Masuk DPO

Ilustrasi DPO

Mataram (Suara NTB) – Satu aplikator rumah tahan gempa di Lombok Utara masuk daftar pencarian orang (DPO). Pasalnya, aplikator itu belum mengembalikan dana bantuan Pokmas. RTG tidak dibangun, uang sudah dibawa kabur. “Aplikator di Desa Jeruk itu masih DPO. Dia kerjakan proyek rusak berat satu Pokmas,” ungkap Kabid Hukum Polda NTB Kombes Pol Abdul Azas Siagian dikonfirmasi akhir pekan lalu.

Dia mengatakan, kasus itu diproses pidana apabila tidak kunjung mengembalikan uang. Oknum aplikator itu diduga menggelapkan dana milik Pokmas. Pokmas itu mengerjakan RTG rusak berat.

Baca juga:  Polisi Tangani 16 Kasus RTG

“Batasnya kan 25 Desember. Karena RTG dikerjakan dalam bentuk kerjasama, maka di sana timbul perjanjian perdata. Masih dikasih waktu,” sebutnya.

Meski demikian, unsur pidana juga berpeluang dipakai untuk menjerat aplikator nakal. Yakni dugaan penggelapan. “Itu uangnya masyarakat yang asalnya dari negara. Masuknya penggelapan,” imbuh dia.

Azas menjelaskan kemajuan pembangunan RTG tidak terhambat. Dia mengakui malahan progresnya semakin baik. “Yang kita tangani kan lima kasus (aplikator bawa kabur uang). Tidak ada pengaruh, bagus kok progresnya,” tandasnya.

Baca juga:  Wapres : Rehab-Rekon di NTB Harus Tertangani Tuntas

Pemerintah menggelontorkan dana sebesar Rp5,209 triliun untuk pembangunan RTG warga terdampak gempa Lombok tahun 2018 lalu. Menurut data BPBD Provinsi NTB per 21 Oktober 2019, RTG selesai dikerjakan sebanyak 103.213 unit. Rinciannya, 28.496 rumah rusak berat, 16.093 rumah rusak sedang, dan 58.624 rumah rusak ringan. Sementara yang masih dalam pengerjaan sebanyak 71.812 unit, diantaranya 40.597 unit rumah rusak berat, 9.231 rumah rusak sedang, dan 21.984 rumah rusak ringan. (why)