Bendahara Pokmas Diduga Pakai Dana Gempa untuk Judi

Suasana penangkapan oknum Bendahara Pokmas, Jumat, 25 Oktober 2019 lalu oleh tim penyidik Sat Reskrim Polres Mataram. (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Tersangka kasus dugaan penggelapan dana bantuan korban gempa senilai Rp410 juta punya sepak terjang kurang baik. Kecanduan dengan permainan dalam jaringan (daring),  tersangka inisial IN menggunakan dana itu untuk game yang populer disebut judi online tersebut.

Hasil pendalaman sementara penyidik unit Tipidkor Satuan Reskrim Polres Mataram, tersangka IN warga Desa Sigerongan, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat menggunakan dana gempa untuk keperluan pribadi. Sebagian uang bantuan korban terdampak gempa di Sigerongan dihabiskan tersangka untuk main judi online jenis poker.

Pengakuan tersangka itu dibenarkan Kapolres Mataram AKBP H. Saiful Alam sesuai pemeriksaan awal  Sabtu, 26 Oktober 2019, beberapa jam setelah dilakukan penangkapan. ‘’Pengakuan tersangka IN, uang itu dipakai untuk judi online,” kata Kapolres.

Lebih miris, selain untuk judi permainan daring, tersangka IN juga  menggunakan dana untuk foya-foya.

Baca juga:  Oknum Aplikator Diduga Bawa Kabur Dana RTG di Gunungsari

‘’Selain untuk game online, tersangka IN menggunakan juga untuk pergi ke tempat hiburan malam atau dugem (istilah dunia gemerlap, red),’’ ungkap Kapolres.

Pengakuan itu kini sedang didalami penyidik Sat Reskrim Polres Mataram, khususnya untuk diperoleh berapa dana yang dihabiskan untuk main judi, termasuk uang melayang untuk ke tempat hiburan malam.

Dalam program pembangunan Rumah Tahan Gempa (RTG), IN adalah bendahara kelompok masyarakat (Pokmas). Pokmas yang dinamakan Repok Jati Kuning menangani pembangunan RTG untuk 70 kepala keluarga (KK).

Namun, IN menyalahgunakan kewenangannya dengan menilep uang bantuan gempa tersebut. Modus dugaan korupsi dana sebesar Rp 410 juta itu, IN melakukan mutasi dari rekening Pokmas ke rekening pribadinya. Proses pemindahbukuan itu dicurigai masyarakat, kemudian dilaporkan ke Polisi.

Baca juga:  Wapres : Rehab-Rekon di NTB Harus Tertangani Tuntas

Jumat, 25 Oktober 2019, IN ditangkap sekitar pukul 18.00 Wita di Sigerongan. Sementara barang bukti yang diamankan yakni satu buah buku tabungan Bank BCA atas nama tersangka IN. Isinya bukti penarikan uang dan transaksi keuangan. Dan dua lembar rekening tahapan  BCA.

“Nilai yang diduga digelapkan tersangka sekitar Rp 410 juta. Modusnya tersangka mengalihkan dana bantuan korban gempa ke rekening pribadinya. Uang itu untuk korban gempa yang rumahnya rusak sedang,’’ beber Kapolres.

Ia menambahkan, anggaran yang turun dari APBN untuk korban gempa rumah rusak sedang di Sigerongan Rp 1,7 miliar. Anggaran itu peruntukannya untuk 70 kepala keluarga.

“Kami masih dalami, apakah  uang yang digelapkan bisa lebih dari Rp 410 juta,” sebutnya. Sementara IN bungkam saat ditanya soal kasus yang membelitnya. (ars)