TPPO Arab Saudi Satu Perekrut Masih Diburu

Tersangka TPPO Arab Saudi, HS dibawa ke ruang tahanan usai pemeriksaan. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Perekrut pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal ke Arab Saudi belum semua ditangkap. Dua perekrut PMI meninggal di Mekkah, Arab Saudi sudah dijebloskan ke sel tahanan. Masih ada satu pelaku lagi yang masih diburu. “Satu pelaku lagi masih kita buru. Sama dia, perekrut,” ungkap Kasubdit IV Remaja Anak Wanita (Renakta) Ditreskrimum Polda NTB AKBP Ni Made Pujewati dikonfirmasi kemarin.

Sebanyak empat korban meninggal dunia akibat kebakaran di Attaqwa, Mekkah, Arab Saudi Juni lalu. Dua tersangka perekrut korban yang diduga PMI ilegal itu sudah ditangkap.

Mereka, yakni tersangka Hj SA (47) dan HS (50). Dua tersangka memberangkatkan para korban secara tanpa prosedur sehingga ilegal.

“Yang satu lagi belum bisa kita ungkap identitasnya. Yang jelas tim penyidik sudah mendalami. Mudah-mudahan dapat segera kita temukan untuk diproses,” terangnya. Meski masing-masing tersangka perekrut berbeda, namun modus yang dijalankan sama. Seperti memberikan uang kepada keluarga korban sebagai bagian dari iming-iming

untuk meyakinkan korban. Besarannya Rp5 juta.

Tersangka HS merekrut Ida Rohayani, warga Kelurahan Renteng, Praya, Lombok Tengah pada akhir 2017.  Tersangka memalsukan KTP korban untuk dokumen keberangkatan. Korban lebih dulu dititipkan di Jakarta sebelum berangkat ke Mekkah. “Para pelaku ini sebagai perekrut. Mereka punya sponsor masing-masing untuk memberangkatkan korbannya ke luar negeri. Korban Cuma ditampung, tidak ada pelatihkan,” terangnya.

Tersangka SA menggunakan modus yang sama untku merekrut Siti Nurjanah asal Kelurahan Jago, Praya, Lombok Tengah. Tersangka memberi keluarga korban bayaran sebesar Rp2 juta. Korban lalu diberangkatkan ke Arab Saudi via Surabaya. Total empat PMI asal Lombok NTB meninggal dunia dalam kebakaran rumah penampungan di Attaqwa, Mekkah, Arab Saudi Rabu (20/5) lalu.

Korban meninggal itu antara lain Siti Nurjani (24) warga Meteng, Keluarahan Prapen, Praya, Lombok Tengah; Kaini (32) warga Wakul Kelurahan Renteng, Lombok Tengah; Lalu Praya Ida Royani (37) asal Grantuk, Kelurahan Renteng, Praya; dan Tari Asma (19) asal Tongkek, Batunyale. (why)